Cermin



Tahukah kamu bahwa benda mati bisa menyimpan banyak cerita? Kuperkenalkan diriku terlebih dahulu, aku Sita, siswi di salah satu sekolah menengah atas, Bandung. Kalau boleh sedikit bercerita, sebenarnya aku tidak terlalu percaya dengan yang namanya hantu. Aku sering mendengar cerita-cerita dari temanku mengenai makhluk halus yang bisa dating dimana saja ketika kita sedang lemah. Tapi buatku itu hanya isapan jempol belaka, hingga suatu hari aku sadar bahwa mereka itu memang ada.
Mungkin aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang takut tidur dalam gelap. Karena sewaktu kecil aku mempunyai pengalaman buruk dengan ruangan gelap, hingga membuatku phobia ruangan gelap. Namun entah kenapa malam itu aku ingin sekali merasakan tidur dalam kegelapan. Karena kata orang lebih baik tidur dalam gelap dari pada terang. Ya… memang benar sih, setiap tidur dengan keadaan lampu dinyalakan, tidurku tidak pernah lelap, kadang terasa pusing malah.
Aku pun mulai tertidur. Entah berapa lama aku terlelap tidur dan memang benar, dengan dimatikan lampunya, aku merasa tidurku sangat nyaman dan tenang. Tapi tiba-tiba entah karna apa, aku terbangun dari tidur dan tanpa rasa kantuk sedikit pun, seperti ada yang membangunkanku. Dan saat itu pula aku melihat kea rah cermin yg menempel di dinding tepat di hadapanku. Tahukan kamu apa yang aku lihat saat itu? Ada sesosok wanita setengah baya menggunakan kebaya, rambut di cepol, rapih sekali. Kontan aku menutup muka ku dengan selimut. Aku bisa merasakan detak jantungku dengan tempo cepat. Keringat dingin mulai mengucur di sekujur tubuhku. Aku yakin sekali dengan apa yang ku lihat barusan. Meskipun lampu kamar di nyalakan, tapi masih ada cahaya dari luar yang masuk ke sela-sela jendela makarku, sehingga aku masih bisa melihat siluet atau baying-bayang yang ada di kamarku, termasuk siluet wanita berkebaya yang tadi aku lihat didalam cermin.

Ada sesosok wanita setengah baya menggunakan kebaya, rambut di cepol, rapih sekali

Sejak saat itu aku tidak berani lagi mencoba-coba tidur dalam gelap. Aku lebih memilih lampu dinyalakan walaupun harus mengalami susah tidur, atau kepala pusing. Dan mulai saat itu, aku merubah arah tidurku hingga membelakangi cermin itu. Aku takut, tiba-tiba dia menampakan wujudnya lagi. Aku pun menceritakan kejadian itu pada kakak sepupuku, namanya Dea. Ka Dea merupakan orang yang mengantarkanku membeli cermin itu di pasar Ujungberung. Saat berbincang-bincang dengan ka Dea, kita mulai memperkirakan apa saja kemungkinan-kemungkinan bagaimana sosok itu bisa muncul di dalam kaca. Dari mulai memperkirakan asal bingkai cermin, pembuatan cerminnya seperti apa, dan entah apalagi yang kita bicarakan saat itu. Dan satu hal lagi, aku membeli cermin itu sangat murah, jauh lebih murah dari yang tahu dari penjual-penjual pinggir jalan. Cermin itu masih menyimpan segudang misteri dan Tanya. Hingga saat ini aku masih menyimpan cermin itu, dan belum pernah mengalami kejadian yang sama untuk kedua kalinya. Makhluk itu sedikitpun tidak mengganggu, mungkin ‘dia’ hanya ingin aku tahu bahwa ‘dia’ itu ada.

1 comment:

Anonymous said...

:o