Pengalaman Lahiran Normal Tanpa Induksi Buatan

Tepat 8 Oktober 2019 lalu adalah saat dimana saya merasakan pengalaman yang sangat menakjubkan. Dimana saya diberikan  kesempatan oleh Allah untuk merasakan nikmatnya melahirkan.

Selama hamil saya sudah mencari-cari literatur atau akun-akun yang menerangkan cara menghadapi lahiran normal yang nyaman, salah satunya adalah Bidan Kita. Beberapa hal yang sering saya temukan sebelum menghadapi lahiran adalah belajar nafas perut, hypnobirthing, cara menggunakan gymball dan peanutball, prenatal yoga, senam hamil, jalan cepat minimal 30 menit dalam sehari, dll.

Selama masa kehamilan, saya baru melakukan olah raga di trimester 2. Itu pun hanya mengambil paketan prenatal yoga selama 4 kali pertemuan. Saat itu saya melakukan prenatal yoga di Baby Prince Care Pamulang dengan Bidan Ika sebagai Doula. Banyak yang saya pelajari disana, terutama bagaimana cara mempraktekan nafas perut. Nafas perut ini perlu dilatih selama masa kehamilan untuk menghadapi kontraksi menjelang lahiran.

Trimester 3, saya ingin mencoba olah raga lain, yaitu senam hamil di RS Eka Hospital. Disana harus waiting list selama satu bulan. Saat itu pun saya hanya melakukan senam hamil disana sekali, karena tak lama dari itu saya harus ambil cuti dan langsung pulang kampung ke Sumedang. Honestly, saya lebih senang prenatal yoga dari pada senam hamil. Entah karena faktor instruktur, lingkungan atau memang saya lebih senang yoga.

Selama cuti hamil olah raga apa lagi? Saya olah raga yang gratis dan murah meriah, jalan kaki 30 menit sekali dalam sehari.

Saya mulai cuti hamil di week 37, tadinya mau week 38 tapi karena temen-temen di kantor lagi ngehits banget yang namanya pecah ketuban dini, untuk jaga-jaga saya mulai ambil cuti ketika masuk ke week 37. Saya bekerja di daerah Tangerang dan memutuskan untuk lahiran di kota Bandung, tepatnya di RS Al-Islam Bandung. Kenapa? Karena lumayan dekat dari tempat tinggal orang tua saya dan disana juga tempat adik saya bekerja jadi urusan administrasi dia bantu dari awal sampai akhir, saya tahu beres :D.

Week ke 38, posisi kepala bayi sudah dibawah tapi belum ngunci di panggul. Saya disuruh menaikan intensitas jalan kaki, malah saya disuruh jogging. Dari awalnya hanya 30 menit, saya naikkan menjadi 1 jam. Kontraksi sudah mulai terasa walau ternyata itu hanya kontraksi palsu.

Week ke 39, posisi bayi masih belum ngunci di panggul, belum ada pembukaan juga. Saya tidak lagi jogging, melainkan berlari, saking udah ga sabar pengen cepet cepet lahiran. Di week 39 ini saya sempat mendatangi 2 bidan. Bidan pertama, memberikan saya obat pelunak mulut rahim dengan dosis 2 tablet sehari agar mempercepat pembukaan. Di bidan kedua saya disuruh melanjutkan meminum obat pelunak mulut rahim tersebut, tapi dinaikan dosisnya menjadi 3 tablet sehari. Saat saya periksa ke bidan yang kedua, umur kehamilan saya tepat 40 weeks.

Sehari setelah periksa ke bidan yang kedua, saya masih melakukan lari pagi selama 1 jam. Saat itu seperti biasa saya merasakan kontraksi. Karena udah sering di PHP-in sama kontraksi palsu, saya abaikan rasa nyeri di perut saat berlari. Sampai akhirnya saat sore hari, adik saya melihat saya yang meringis setiap kali kontraksi muncul. Adik saya menyuruh saya untuk segera ke rumah sakit, dia menduga sudah ada pembukaan. Awalnya saya menolak, karena saya masih yakin ini hanya kontraksi palsu. Tapi adik saya memaksa, dia meyakinkan saya untuk segera ke rumah sakit. Ternyata benar saja, ketika masuk IGD dan diperiksa dalam oleh bidan jaga, saya sudah pembukaan 4 mau ke 5. Saya sangat bersyukur mendengarnya. Saat itu juga adik saya mengurus semua masalah administrasi dan juga menghubungi keluarga juga suami saya yang masih di Tangerang.

Proses pembukaan tidak terlalu mulus. Saya butuh waktu 4 jam menuju pembukaan 6 dari pembukaan 5. Padahal denger cerita orang tua, kalau udah pembukaan 5 biasanya suka cepet menuju lahiran. Dari awal pembukaan hingga pembukaan ini saya masih bisa menikmati makan masakan padang :D dan yang paling penting adalah saya masih bisa mempraktekan nafas perus saat kontraksi datang. Seberapa penting sih nafas perut? Penting banget, karena nafas perut ini bisa mengurangi rasa nyeri saar kontraksi, membuat kita lebih fokus dan tenang selama proses pembukaan.

Empat jam dari pembukaan 6, hanya naik menjadi pembukaan 8 saja. Dan disinilah saya mulai tidak bisa mengontrol diri. Sampai suami kena omel hanya karena nyuruh saya buat sabar. Disini saya sadar perlunya ikut Yoga Couple, agar suami juga mendapatkan ilmu penting dalam mendampingi istri selama proses lahiran. Para suami menjadi tahu bahwa istrinya itu sudah kuat dan sabar, daripada menyuruh sabar lebih baik support dengan tindakan seperti mengelus elus punggungnya atau sekedar mengingatkan untuk beristigfar. Kembali ke pembukaan 8 :D, disini saya mulai kesulitan mengatur nafas perut, dan emosi pun tak terkontrol. Beberapa kali saya meminta bidan untuk cek pembukaan karena rasa sakitnya sudah tak tertahan. Tapi pembukaan masih mentok di 8, saya belum bisa masuk ruang persalinan. Saya disarankan menggunakan peanut ball untuk mempercepat pembukaan. Lagi-lagi saya tidak bisa mengontrol emosi. Saya meminta suami untuk menjauhkan peanut ball karena ketika menggunakannya saya merasakan sakit yang lebih tidak tertahan lagi. Setiap kontraksi datang saya berbisik kepada suami, "Sakit banget.... aku ga kuat." Suami saya tampak tidak tega dan menawarkan untuk SC saja. Tapi saya menolak karena sudah hampir selesai perjuangan ini. Menuju pembukaan 8 dan menahan sakitnya itu bukan perkara mudah. Saya yakin masih bisa lahiran normal.

Satu jam berlalu dan rasa sakit semakin menjadi-jadi. ketika diperiksa dalam ternyata sudah pembukaan 9 dan saya pun disuruh memasuki ruang persalinan. Saya pikir masuk ruang persalinan langsung bisa lahiran, ternyata saya masih harus menunggu 1 jam lagi, kepala bayi belum cukup turun untuk mulai mengejan, pembukaan belum sempurna.  Satu jam terasa sangat lama dengan rasa nyeri seperti itu. Saat itu cuma mau bilang ibu ibu yang sudah lebih dulu merakan proses lahiran, kalian sungguh luar biasa.

Akhirnya pembukaan pun lengkap, itu pun dengan bantuan Bidan mempercepat turunnya kepala bayi. Padahal saya sempat ngebatin, "Ya Allah jika memang ternyata sudah jalannya saya harus diinduksi buatan saya siap dan jika sata harus SC, saya ikhlas, saya yakin Engkau akan memberikan jalan untuk masalah biaya." Saya lahiran di rumah sakit tanpa asuransi, karena dari tempat saya bekerja hanya diberikan BPJS yang untuk lahiran normal di RS yang kita inginkan itu agak sulit, sangat dibatasi birokrasi. Alhamdulillah berkat Nakes2 Al Islam yang sangat kooperatif dan juga sabar menengani saya yang penuh drama, bayi mungil itu pun terlahir ke dunia dengan selamat dan sehat.

Saat proses melahirkan, nafas saya buruk sekali, mengejan pun tidak dilakukan dengan tepat. Mungkin karena saya sudah lelah tidak tidur semalaman dan menahan rasa nyeri kontraksi. Proses mengejan hingga kepala bayi keluar itu saya lalui selama 2 jam, waktu yang sangat lama menurut saya. Ini juga pentingnya ikut kelas Prenatal Yoga TM3, karena disana diajarkan cara mengejan dan nafas saat proses persalinan, dan saya tidak mengikutinya.

Ya itulah pengalaman saya melahirkan secara normal dengan berbekal ilmu saat mengikuti Prenatal Yoga TM2, Senam Hamil, Rutin Gym Ball dan jalan cepat 30 - 1 jam sehari. Semoga postingan saya bermanfaat dan menginspirasi bumil-bumil di luar sana. Maaf jika alur cerita berantakan :D.