Perjalanan Menuju Rumah Impian

Tangerang Selatan - 2020

Setelah sekian lama hiatus dalam dunia per-bloggan, akhirnya aku putuskan untuk sharing mengenai perjalananku menggapai rumah impian. 

Aku dan suami menikah di tahun 2017. Kami memutuskan untuk tidak membeli rumah tinggal terlebih dahulu. Saat itu kami berfikir kalau membeli kendaraan (mobil) lebih dibutuhkan untuk mobilisasi, sementara itu kami tinggal di rumah orang tua suami alias mertuaku. Pertimbangan lainnya adalah lama cicilan mobil bisa lebih cepat, sehingga tidak perlu menunggu waktu lama untuk mulai mencari rumah sesaat sebelum cicilan mobil lunas. Kami memulai semua dari nol, biaya resepsi pernikahan hasil dari kami menabung, pun membeli kendaraan, dan rumah pun sudah pasti hasil keringat sendiri. Sehingga kami harus memikirkan matang-matang dalam mengambil keputusan. 

Langsung saja ke topik pembahasan ya bund. Aku dan suami mulai mencari rumah di pertengahan tahun 2019. Kami mencari rumah indent dengan DP yang bisa dicicil setidaknya setahun, agar waktu pelunasan DP bisa berbarengan dengan mobil lunas, sehingga ketika BI checking saat pengajuan KPR, cicilan kami tidak terlalu banyak.

Ada beberapa perumahan di sekitar Tangerang Selatan yang kami incar dan saat itu kebanyakan ada di daerah Cisauk, Kabupaten Tangerang. Kenapa diasana? Karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah mertua. Kenapa harus dekat mertua? Karena aku dan suami bekerja, maka kami menitipkan anak di mertua. Anak kami sudah sangat dekat dengan neneknya, kalau tiba-tiba harus dititipkan ke orang lain atau daycare kasihan juga harus adaptasi ulang, dan pasti tidak mudah. Alasan lainnya karena akses ke pusat 'peradaban' lebih dekat :)), dekat tol, dekat stasiun, dekat mall, dekat pasar, dll. 

Perumahan yang saat itu kami incar antara lain, Springhill Yume Lagoon, Serpong Lagoon, Serpong Jaya dan Serpong Garden.Setelah observasi, kami mencoret Serpong Lagoon dari bucket list. Why? Pertama, karena jarak cluster ke jalan utama cukup jauh jadi perlu kendaraan pribadi atau pakai jasa ojol. Kedua, karena ada beberapa review kalau disana rentan banjir. Dan terakhir, harganya cukup pricey menurut kami.

Next, kami menghubungi serpong jaya untuk meminta pricelist. Dari segi harga menurut kami masih oke lah, tapi setelah melihat LT dan LB-nya kami mundur teratur. Menurut kami harga yang ditawarkan terlalu pricey untuk luas tanah dan luas bangunan yang tercantum. Dan satu hal lagi, aku pribadi kurang suka akses dari serpong ke pamulang. Ada beberapa titik jalan yang tiba-tiba menyempit kemudian melebar kembali yang menurutku bisa jadi biang kemacetan. Itu menurutku ya, mungkin sebagian orang punya pandangan lain dan aku hargai itu. 

Kemudian ada Springhill Yume Lagoon. Perumahan berkonsep Jepang ini adalah yang paling disukai suami. Akupun sempat kepincut. DP bisa dicicil. Akses juga oke, tidak terlalu jauh dari serpong. Tapi setelah menimbang-nimbang antara Springhill Yume Lagoon dan Serpong Garden, kami akhirnya oleng. 

Aku dan suami tidak berpikir panjang lagi untuk memilih Serpong Garden. Why? Karena DP bisa dicicil, itu sudah pasti. Luas tanah yang ditawarkan lebih besar dengan harga bersaing. Jarak cluster ke jalan utama sangat dekat, bahkan bisa jalan kaki. Dekat dengan tempat Wisata Saiji. Dekat stasiun. Cukup dekat dengan rumah mertua dan banyak promo lainnya yang sangat-sangat menggiurkan. Seperti potongan DP 10%, free surat-surat, dan lainnya yang aku lupa detailnya apa saja. Booking fee langsung kami bayar tunai sebesar 5jt rupiah.

Beberapa minggu setelah itu, badai pun datang menerpa. Tiba-tiba tetangga dekat mertuaku menawarkan tanah dengan luas 120 meter persegi plus bangunan yang bisa kita custom sesuka kita dengan harga yang sama dengan harga rumah yang akan kami beli di Serpong Garden. Dan yang lebih menggiurkan parahnya lagi adalah, lokasi tanahnya ada di samping perumahan batan indah. Itu artinya dengan harga rumah yang akan kami beli di Serpong Garden, kami mendapatkan LT yang jauh lebih luas, lokasi di kota Tangerang Selatan, dan layout rumah bisa custom suka-suka. Dengan mantap hati kami cancel Serpong Garden dan mulai membicarakan tentang membangun rumah dari tanah kosong sesuai dengan impian kami. 

Badai kedua pun menerpa kami. Karena pandemi yang seolah tak kunjung berakhir ini, perusahan tempat kami bekerja pun menjadi terdampak. Kenaikan gaji dan bonus tahunan yang tak menentu membuat kami banting stir. Kami bersyukur karena perusahaan tempat kami bekerja setidaknya masih memikirkan kesejahteraan karyawan disaat perusahaan lain collapse dan atau melakukan phk. Tapi apa yang kami dapatkan dari perusahaan setelah menjadi terdampak pandemi covid-19 ini seolah menjadi tamparan bagi kami. Impian kami terlalu tinggi, terlalu memaksakan, hampir melampaui batas kemampuan kami dari segi financial. Fyi, dari rentetan perumahan yang aku jabarkan diatas mematok harga mulai 800jt hingga 1M. Kami pun mulai menurunkan standar. Transaksi jual beli tanah plus bangunan pun kami cancel secara baik-baik dan terbuka. 

Tangerang Selatan, 2021

Kami mulai menurunkan standar, namun masih mengutamakan rumah dengan luas tanah yang tidak terlalu kecil. Kami mematok minimal LT 72 meter persegi. 

Ada banyak nama perumahan yang kami list dan kebanyakan ada di daerah pamulang. Banyak juga yang menawarkan dengan harga murah, tapi setelah di-observasi lebih dalam ternyata harga tertera adalah harga cash keras, dan untuk KPR kami harus mencari sendiri. Selain itu kami juga menyempatkan diri untuk mendatangi lokasi. Percayalah tidak ada rumah murah di kota Tangerang Selatan, haha. Ketika kamu mendapatkannya, ada satu hal yang perlu kamu curigai, yaitu akses menuju perumahan dari jalan utama. Kami memilih satu perumahan di daerah Pondok Benda, Pamulang untuk kami kunjungi. Jalan menuju cluster tidak terlalu sempit, tapi cukup bisa meningkatkan kesetresan jika kita menggunakan kendaraan roda empat dan di arah berlawanan ada mobil lain atau bahkan truck box. Samping kiri dan kanan ada pembatas, tidak ada bahu jalan yang bisa diandalkan. Kebayang kalau pulang kerja harus selalu merasa dihantui dengan kejadian yang sama. Niat mau istirahat malah stress. 

Dari Pamulang, kami coba belok ke Cisauk kembali. Kali aja masih jodoh sama perumahan daerah Cisauk. Ada satu perumahan yang sebenarnya dari dulu sempat membuatku jatuh cinta karena dari segi harga sangat murah meriah. Dengan 500-600 juta, kita sudah bisa mendapatkan rumah dengan luas tanah diatas 83 meter persegi di area Cisauk. Lokasi sangat dekat dengan Stasiun Cisauk. Nama perumahannya adalah Griya Mulia Cisauk. Saat kami menuju kesana, kami sangat terkejut dengan aksesnya yang sangat-sangat sempit, hanya bisa satu mobil. Ini lebih parah, bahkan tidak bisa dibandingkan dengan akses cluster di Pamulang yang sebelumnya kami datangi. Kalau pakai motor masih oke, tapi kalau pakai mobil, kita harus mundur ketika ada mobil lain di arah berlawanan. Itu minus yang pertama. Minus yang kedua adalah ketidaknyamanan kami dengan marketingnya. Menurut kami orang marketing yang melayani kami kurang bisa diajak bernegosiasi dan parahnya lagi malah menceramahi. Dan menurut kami yang sudah melakukan interaksi dengan banyak orang marketing di perumahan lain, ini adalah yang terburuk. Poin plusnya adalah proses KPR lebih mudah dan cepat karena mereka memiliki bank pribadi untuk proses KPR, pembangunan relatif lebih cepat maksimal 6 bulan dari lolos KPR, dan perumahan ini berbasis syariah, insyaallah bebas riba. 

Setelah mengarungi badai yang seolah mengombang ambing kami tanpa arah dan tujuan, akhirnya kami pun berlabuh ke dua pilihan perumahan di daerah Gunung Sindur. What? Iya, aku tahu itu sudah masuk kabupaten Bogor. Lagi-lagi kami menurunkan standar, kali ini sampai ke tahap menurunkan standar lokasi rumah, yang penting masih dekat dengan rumah mertua meskipun membuat kami semakin jauh dari tempat kami bekerja. It's Ok, saatnya kami merunduk, masih banyak diluar sana yang tidak seberuntung kami. Terus melihat keatas hanya akan membuat kami lelah. Kurang lebih itulah kalimat-kalimat penghibur kami. 

Jade Park 2 dan Blossom Park adalah dua jagoan terakhir kami. Pertama, kami melaju ke Jade Park 2. Diluar dugaan, awalnya kami pikir akses menuju kesana harus melewati jalan sempit, karena saat melihat di Google Maps lokasinya dekat dengan pemukiman warga. Tapi ternyata jalannya luas banget mirip jalan utama. Dan saat kami memasuki area cluster, kami langsung jatuh cinta dengan eksterior dan lingkungannya yang sangat-sangat asri. Saat itu kebetulan habis hujan, dan setelah melihat sekeliling, kami merasa seperti sedang berada di puncak bogor. Jalannya pun sudah pakai aspal. Lebay banget ya, tapi memang semenakjubkan itu. Begitupun dengan harga bangunannya, haha. Kami terpaksa menjadikan Jade Park 2 menjadi pilihan kedua, karena dari segi harga masih tidak jauh beda dengan Serpong Garden meskipun lebih banyak benefit yang kami dapat di Jade Park 2 ini. Salah satunya adalah DP nol persen. Tapi sebenarnya DP nol persen itu bisa jadi boomerang sih, karena itu artinya semakin besar cicilan KPR kita, haha. Orang marketingnya ramah-ramah dan penjelasannya sangat detail selama mendampingi kami melihat rumah contoh, juga sabar. Permulaan yang sangat baik pokoknya :D. Saat itu kami tertarik dengan tipe rumah 45/91 dan 60/72 dengan harga mulai 800jt-an.

Keesokan harinya kami memutuskan untuk mendatangi Blossom Park, 3 km lebih jauh dari Jade Park 2. Lokasinya tidak jauh dari pasar prumpung. First impression, wow ada mesjid cukup besar di dekat main gate. Akses masuk ke dalam cluster cukup ketat, ada satpam yang 24 jam menjaga mesin portal. Pemilik rumah disana dibekali kartu khusus, sedangkan pengunjung diwajibkan menitipkan KTP. Bangunan rumahnya bertemakan semi industrial. Sentuhan bata merah yang terekspos di fasadenya membuat bangunan tampak lebih cantik. Konsep rumahnya sendiri adalah rumah tumbuh dan kita bisa custom layout tanpa merubah fasade tentunya. Saat itu kami tertarik pada layout tipe Belladona, tapi karena luas tanah yang tersisa dibawah 72 meter persegi, kami pilih tipe lain yaitu New Camelia dengan LB 50, LT 83. Luas bangunan bisa custom jika ingin dirubah atau diperluas. DP bisa dicicil selama 4 bulan sebesar 10 persen atau cash sebesar 5 persen. Bekerja sama dengan banyak bank untuk pengajuan KPR, konvensional maupun Syariah. Bismillah, dan kami pun menjatuhkan pilihan pada New Camelia, Blossom Park dengan harga dibawah 700jt.

Semua tipe rumah di Blossom Park ini adalah bangunan dua lantai. Luas bangunan rata-rata dibawah 60 dengan menyisakan lahan kosong di belakang rumah yang bisa kita bangun kembali atau dibuat taman belakang rumah yang asri. LB 50, dua lantai? Ya, memang ukuran masing-masing ruangan menjadi minimalis, yang terdiri dari 2 kamar tidur, 2 kamar mandi, 1 dapur, 1 ruang tamu yang merangkap sebagai living room bahkan bisa disandingkan dengan ruang makan tanpa sekat. Tapi jangan khawatir, karena kita dibebaskan untuk  merubah layout. Pada tipe New Camelia ini memiliki 2 pintu masuk, satu pintu menuju living room dan satu pintu lagi menuju dapur. Dari pintu masuk living room di hadapan kita ada rolling door kaca besar menghadap taman belakang. Salah satu poin rumah impian kami adalah adanya cross ventilation di dalam rumah. Selain itu di rumah ini juga sangat mengoptimalkan peletakkan jendela, sehingga sinar matahari akan lebih leluasa menerangi seisi rumah tanpa terkecuali, sehingga kita bisa lebih menghemat listrik di siang hari. 

Setelah oleng kesana kemari dalam mencari rumah untuk tinggal, kami lebih santai menjalani prosesnya. Kalau memang jodoh ya pasti dipermudah jalannya. Saat itu tipe new camelia hanya tersisa 1 unit. Dan disaat yang bersamaan dengan kedatangan kami mendatangi kantor pemasaran Blossom Park, saat itu pula PT. PP sudah mengincar sisa satu tanah tipe itu untuk dipasarkan. Selain itu harga per hari itu naik. Balik lagi, kalau jodoh pasti jalannya akan dipermudah. Alhamdulillah kami mendapatkan harga lama dengan cicilan DP 10% selama 5 bulan yang harusnya 4 bulan saja maksimal. Bismillah ya bund :D. Oh iya booking fee di Blossom Park ini terbilang cukup murah, yaitu 2,5jt. Bahkan ini lebih murah jika diandingkan dengan Griya Mulia Cisauk, yaitu 10jt.

Nih, aku kasih lihat fasade dan layout rumah tipe New Camelia di Blossom Park yang aku comot dari website-nya. Jujur, aku kesulitan mencari informasi mengenai Blossom Park secara online diluar website-nya. Aku dan suami tahu tentang Blossom Park saja dari papan iklan dekat rumah mertua. Sesampainya disana tipe Belladona dengan LT 72 sudah sold out, dan tipe New Camelia hanya tersisa 1 unit, bahkan rumah contohnya pun sudah laku terjual. Dulu sempat cari di IG-nya untuk melihat bangunan realnya untuk tipe New Camelia ini. 

Dan hanya gambar ini yang bisa aku dapatkan. Diposting saat bulan april 2020 lalu, progress pembangunan pertama yang akan dijadikan rumah contoh. Belum genap 1 tahun, semua unit tipe ini sudah terjual habis. Aku dan suami pikir, mungkin ini yang dinamakan jodoh. Kita telat sehari saja, mungkin sudah kehabisan. Karena saat aku survey kesana untuk kedua kalinya, sekaligus untuk tanda tangan beberapa surat, ada satu pasangan yang tertarik dengan tipe yang sama, yaitu New Camelia. Tapi sayang, aku dan suami adalah pembeli terakhir untuk tipe ini. Sebenarnya masih ada tipe Camelia dengan LT 60, Belladona dengan LT 63-66, dan tipe paling mewah ada Azalea dengan LB 60 LT mulai 72. Fyi, untuk tipe Azalea ini sudah termasuk fasilitas Smart Home. Zuzur, aku sempat oleng ke Azalea, tapi lagi-lagi kami sadar untuk jangan memaksakan melihat harga tipe ini hampir mencapai 900jt :D.

Terakhir, sebelum aku akhiri sharing kali ini mengenai rumah impian, di Blossom Park ini juga dilengkapi Club House, salah satu fasilitasnya adalah Kolam Renang. Tapi belum mulai dibangun karena menunggu pembangunan di sekitar area rencana Club House rampung. Aku paham sih, untuk membuat kolam renang harus dipastikan tidak ada debu di area sekitar kolam. 

Baiklah, sekian sharing ngalor ngidulku pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat. Terima Kasih.