Review Jujur Diapers Merries Vs Mamy Poko

Sebagai orang tua sudah sewajarnya ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, apalagi anak pertama. Teorinya 'ada harga ada kualitas'. Tapi kenyataannya tak semua orang tua diberikan kemampuan lebih untuk memberikan sesuatu yang mahal dengan kualitas yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Salah satu item wajib untuk newborn dan juga sifatnya fast moving ialah diapers. Banyak merek yang ditawarkan dengan keunggulannya masing-masing dan juga dengan harga yang bervariasi, dari yang termurah dan termahal. Saya sebagai ibu baru memiliki pengalaman tersendiri dalam memilih merek diapers. 

Diapers pertama yang saya pakaikan pada baby El adalah mamy poko x-tra kering diapers sejuta umat dengan harga yang murah. Apakah baby El cocok dengan merek diapers sejuta umat ini? Awalnya saya pikir cocok dan tidak pernah berfikir kalau diapers yang kurang cocok dapat membuat kulit bayi iritasi. 

From: Google.com

Dari sebelum menggunakan diapers (masih menggunakan popok kain), baby El sering mengalami ruam popok. Saat itu saya sering memakaikan zwitsal baby cream with zinc pada area ruam, dan cream ini ngaruh banget buat baby El. Ruam hilang seketika. Namun saat umur baby El menuju 3 bulan, tak hanya ruam yang muncul tapi juga benjolan seperti jerawat di dekat lubang anus. Saya dan suami sempat membawa ke DSA hingga dirujuk ke dokter spesialis bedah anak. Karena benjolan bernanah menyerupai jerawat itu tidak membuat baby El kesakitan ketika disentuh, dokter menyarankan untuk melakukan operasi kecil agar nanahnya bisa dikeluarkan tanpa sisa. Harga untuk operasi kecil seperti itu saja bisa mengeluarkan biaya hampir mencapai 20jt. Saya dan suami memutuskan untuk mengulur waktu sambil terus mengoleskan salep antibiotik yang diresepkan oleh DSA. Saat mengunjungi DSA pertama kali, baby El diresepkan salep antibiotik dan disarankan untuk menjaga diapers tetap kering, yaitu dengan telaten mengganti diapers jika mulai basah. Benjolan seperti jerawat pada area anus bisa disebabkan pup dan air kencing yang dibiarkan terlalu lama bersentuhan dengan kulit bayi yang tengah ruam. 

Benjolan berisi nanah itu pun pada akhirnya pecah. Baby El tidak merasakan sakit sama sekali. Kecuali ketika beberapa kali saya bersihkan area bernanah dengan menggunakan alcohol swab, baby El tampak kurang nyaman karena perih. Apakah nanahnya tidak muncul lagi? Ternyata pada saat tak terduga benjolan bernanah itu kembali lagi di titik yang sama. Bahkan benjolan menjadi bertambah satu lagi di sisi lainnya. Saya dan suami mencoba untuk tenang dan mencari solusi. Hingga akhirnya kami diberikan petunjuk ketika sedang belanja bulanan di suatu supermarket. Saat hendak membeli diapers, mata kami berdua tak sengaja melirik ke arah merries Good Skin Cegah Iritasi. Kami memutuskan mengganti merek diapers untuk baby El. Harganya lebih mahal sedikit dibanding Mamy Poko X-tra Kering, tapi masih jauh jauh lebih murah dibandingkan Pampers.

From: Google.com

Alhamdulillah setelah menggunakan diapers merek Meries, benjolan bernanah di area anus berangsur mengempis, hingga akhirnya tidak pernah muncul sama sekali. Bahkan ketika saya beberapa kali kelupaan mengganti diapers, area anus baby El masih aman terkendali. Saya dan suami memutuskan untuk meneruskan penggunaan Merries karena ternyata lebih cocok untuk kulit baby El. 

Sekian postingan dari saya mengenai review diapers, semoga bermanfaat. Terima Kasih :D.

Perlengkapan Mpasi Kamayel

Setelah jatuh bangun berdarah-darah akhirnya baby El lulus juga asi eksklusif 6 bulan. Itu artinya ada tantangan baru bagi saya dan El, yaitu masa mpasi. Dimana bayi udah boleh makan makanan pendamping asi karena nutrisi yg terkandung dalam asi tak lagi mencukupi kebutuhan bayi. Lalu apa saja yang perlu dipersiapkan menjelang mpasi? 
Berikut saya rangkum beberapa item yang perlu dipersiapkan dalam menyambut mpasi. 

Booster Seat
Item ini wajib dipersiapkan untuk membantu posisi duduk pada bayi, karena dilengkapi safety yang mencegah bayi terjatuh saat duduk. Bayi wajib diperkenalkan untuk duduk saat makan ya bun. Seperti halnya kita orang dewasa, duduk ketika sedang makan, tidak sambil tiduran bukan? 

Untuk booster seat, saya lebih memilih yang bisa dilipat dan portable, agar mudah dibawa bepergian. Dan lebih memilih low chair yang bisa juga diset menjadi highcair dengan menempatkan booster seat diatas kursi. Booster seat pilihan saya jatuh pada Summer Pop n' Sit karena diantara booster seat merek lain, merek summer dengan tipe inilah yang paling ringkas, mudah dilipat, mudah dibawa bepergian. Modelnya mirip kursi lipat yang sering dipakai oleh sutradara. 

From: Google.com
Slow Cooker
Sebagai ibu pekerja, saya sarankan untuk membeli slow cooker karena lebih memudahkan juga efisien. Kita hanya perlu mengatur tombol timer, menunggu makanan matang sambil bisa melakukan hal lain, seperti cuci botol atau alat pumping kotor misalnya. Slow cooker yang saya gunakan merek baby safe, hadiah dari saudara lebih tepatnya. Kebetulan tipe SC yang saya gunakan ini tipe lama yang tidak menggunakan timer. Hanya ada pilihan Low untuk menghangatkan makanan, High untuk memasak makanan, Auto untuk memasak + menghangatkan ketika makanan sudah matang. Saya lebih sering menggunakan yang High, lama memasak 3-4 jam tergantung banyaknya makanan yang ingin dimasak. 
From: Google.com

Perlengkapan Memasak Lainnya
Ada beberapa item pendukung untuk mempersiapkan makanan setelah dimasak. Pertama, handblender. Kenapa nggak blender biasa aja sih? Menurut saya hand blender lebih mudah dan cepat dalam penggunaannya. Membersihkannya pun tak perlu waktu lama dan handling-nya pun sangat mudah apalagi untuk mem-variasikan tekstur makanan. Merek handblender yang saya pilih adalah Little Giant. Karena murah dan bisa dibilang kalau di dunia per mpasi-an, merek ini adalah merek hand blender sejuta umat. Hehe. 

From: Google.com

Kedua, saringan. Saya memilih saringan kawat berdiameter sedang, yaitu 13,5cm. Ukuran sebesar ini menurut saya sangatlah cukup. Jika terlalu kecil, proses penyaringan menjadi lebih lama, terlalu besar juga akan mempersulit proses penampungan hasil saring. Kok abis diblender masih disaring? Kalau saya tujuannya untuk lebih memastikan bahwa bubur yang saya buat benar-benar lumat. Apalagi jika menunya mengandung prohe daging ayam atau daging sapi yang berpeluang besar menyisakan ampas. 
From: Google.com

Ketiga, masher. Masher pilihan saya jatuh pada babysafe. Selain murah, juga penggunaannya mudah dan makanan bisa langsung disajikan dari mangkuknya. Jadi gak bakal banyak cucian. Haha. 
From: Google.com

Sebenarnya ada berbagai merek yang menawarkan food maker, seperti ritchell, pigeon, kiddy, lusty bunny dan masih banyak lagi. Satu set food maker terdiri dari masher, saringan, pemeras jeruk, parutan dan mangkuk penampung. Tapi saya lebih memilih membeli ketengan, karena untuk pemeras jeruk saya sudah punya bahkan punya dua biji, parutan jangan ditanya udah pasti punya sebelum punya anak :'D, saringan pun saya lebih memilih yang full kawat dan stainless karena lebih awet, bukan yang kawat dengan pinggiran plastik, apalagi yang full plastik seperti pada merek baby safe. 

Alat Makan dan Minum
Item ini tak kalah penting. Saya memilih peralatan makan yang bisa dibawa saat bepergian. Untuk mangkuk makan saya membeli Munchkin love a bowls yang udah satu set dengan tutup serta softspoon.

From: Google.com

Selain itu saya juga membeli little baby food container 160ml. Container multifungsi yang dilengkapi takaran. Sehingga kita dapat memantau banyaknya volume makanan yang dimakan oleh anak kita setiap harinya.

From: Google.com

Sedangkan untuk stok (snacking) puree buah, saya membeli multi food container baby safe berukuran 50ml. Kok kecil? Sengaja biar bisa dibuat 2 kali makan. Untuk snacking saya prefer porsi kecil tapi pemberian lebih dari satu kali dalam sehari. 

From: Google.com

Peralatan makan sudah, sekarang peralatan minum. Kalau gelas saya pakai apa saja, nggak pake merek spesifik. Tapi kalau untuk training bottle, saya percayakan pada Dr Browns. Saya beli dua tipe, yaitu straw cup dan spout. Menurut saya spout lebih cocok untuk bayi yang baru memulai mpasi dibanding yang tipe straw, karena effort untuk menyedot lebih mudah yang spout dibanding straw. Mungkin tipe straw dapat mulai diberikan pada saat bayi berumur 8 bulan. 
From: Google.com

Tipe spout merek Dr. Browns ini memiliki kempuan menahan air tumpah meskipun posisi botol dibalik. Air hanya akan keluar jika karet disedot oleh mulut bayi atau digigit. 

Dr. Brown's straw cup memiliki bola pemberat diujung sedotannya, sehingga memudahkan bayi tetap bisa memyedot minuman dalam keadaan tiduran atau terlentang. Meskipun bola pemberat kadang tidak semudah itu bergerak terutama jika bersentuhan dengan dinding botol karena kesat. Tapi bahannya menurut saya tahan banting. Pernah sekali botol terjatuh dari ketinggian 1,2 meter, tapi botol tetap mulus, tidak pecah dan penyok.
From: Google.com

Sekian sharing dari saya mengenai alat tempur menjelang mpasi. Semoga postingan saya kali ini bermanfaat. Terima kasih :) 

Full Puasa Ramadhan Selama Menyusui

Sebelum memulai sesi sharing kali ini mengenai berpuasa bagi ibu menyusui, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. 
- Anak sudah memasuki masa Mpasi
- Bahasan kali ini relate dengan ibu menyusui yang bekerja
- Hasil pumping sebelum puasa masuk dalam kategori cukup atau tidak campur sufor

Di postingan saya yang berjudul "Balada Pejuang Asi" saya sudah menceritakan banyak hal, dari mulai hasil pumping yang pas-pas an bahkan kadang defisit. Tapi karena saya modal keukeuh saya untuk memberikan asi eksklusif untuk anak saya mengantarkan saya sukses asi eksklusif 6 bulan. Saat ini anak saya sudah memasuki masa mpasi. Ternyata setelah memasuki mpasi ini konsumsi asi anak saya berkurang drastis, dari yang sebelumnya bisa habis 6-8 kantong asi 100ml, sekarang hanya 4-5 kantong asi dengan volume yang sama.

Menjelang bulan suci ramadhan, yaitu sekitar seminggu sebelum anak saya mpasi saya sedikit ragu untuk berpuasa selama bulan ramadhan, karena dari beberapa pengalaman orang-orang, peoduksi asi menurun hingga 50% ketika bulan puasa. Sudah pasti penyebab utamanya adalah kurangnya asupan cairan selama berpuasa. Saya sempat berdebat dengan suami, karena suami saya lebih setuju kalau saya tetap berpuasa. Menurut paksu, saat mpasi kebutuhan asi anak pasti menurun, dan stok asip di freezer (alhamdulillah) mencukupi walaupun ekstrimnya saya tidak menghasilkan asi perah selama bulan puasa. Tapi saya ragu karena beberapa teman saya bilang, produksi asi menurun banyak saat berpuasa dan kebutuhan asip anaknya tidak menurun sama sekali setelah mpasi. 

Setelah diskusi alot dengan suami, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba berpuasa selama satu minggu, jika ada penurunan yang signifikan pada produksi asi, maka saya tidak melanjutkan berpuasa. 

Beberapa hari sebelum bulan ramadhan saya mencari artikel mengenai berpuasa bagi ibu menyusui. Di agama saya yaitu agama Islam memberikan keringanan bagi ibu menyusui. Jika dirasa berpuasa dapat mengurangi asupan asi bagi anak maka sebaiknya tidak berpuasa dan menggantinya dengan fidyah atau meng-qada. Bagi yang ingin tetap berpuasa, pada satu artikel menyebutkan untuk makan tetap 3 kali sehari yaitu saat sahur, berbuka dan setelah shalat tarawih. Kemudian perbanyak minum air putih dari saat waktu berbuka hingga saat sahur. Selain itu konsumsi air nabeez, susu sebagai sumber vitamin D (saya pakai ultra milk uht), dan sari kurma. 

From: Google.com

Cara membuat air nabeez
Bahan:
- Kurma 5 s/d 7 butir (saya pakai kurma khalas) 
- Air putih 300 s/d 400ml
Cara membuat:
- Belah kurma dan keluarkan bijinya
- Masukkan kurma tanpa biji ke dalam gelas bertutup atau tumbler
- Tambahkan air putih
- Tutup gelas dan masukkan ke dalam kulkas selama 6 jam (maksimal 12 jam)
- Air Nabeez sunah rasul siap untuk dikonsumsi. 

Karena saya termasuk golongan pemalas, maka saya mengganti air putih dengan susu UHT agar sekali menyelam dua pulau terlampaui. Hehe. Air nabeez saya konsumsi saat berbuka karena lebih segar diminum dalam keadaan dingin, sedangkan saat sahur saya konsumsi sari kurma sebanyak satu sendok makan. 

Hasilnya bagaimana? Alhamdulillah produksi asi saya tidak mengalami penurunan signifikan. Saya masih bisa menghasilkan 6 kantong asi per harinya dan kebutuhan asi anak saya 4-5 kantong, jadi masih surplus 1-2 kantong. Alhasil freezer saya yang hanya satu biji, itupun dari kulkas dua pintu semakin desak-desakan. Satu sisi saya sangat bersyukur stok asi selama bulan puasa surplus tapi di sisi lain bingung, kalau sudah penuh banget mau ditaruh dimana asipnya. Untungnya sebelum itu terjadi, saya sudah masuk cuti lebaran, jadi saya hanya perlu dbf. Kalaupun saya harus pumping, hasil pumpingnya saya kasih ke anak saya menggunakan alat bantu dot. 

Buat yang anaknya belum mpasi atau masih asi eksklusif apakah masih bisa berpuasa? Jawabannya bisa. Pastikan stok asi memenuhi (setidaknya ada 40-60 kantong asi biar tenang selama menjalankan ibadah puasa, gak usah stress stok seret), weekend atau saat full dbf disarankan untuk tidak berpuasa, karena kebutuhan bayi masih dari asi, sedangkan kita tidak bisa menakar saat dbf. Kalau anak sudah mpasi, tenang insyaallah jika pemberian mpasi sudah benar, kebutuhan asi anak pun berkurang. Selain itu coba dulu selama seminggu, jika produksi asi menurun hingga 50%, sebaiknya hentikan berpuasa dan konsumsi Domperidone 2-3 tablet per hari selama satu minggu.

From: Google.com

Domperidone adalah obat mual yang memiliki side effect memperlancar asi. Tapi ingat ya, konsumsi jika produksi asi menurun hingga 50% saja dan jangan berlebihan. 

Semoga postingan saya kali ini bermanfaat terutama bagi para pejuang asi yang ingin melaksanakan puasa di bulan suci ramadhan ini. Terima Kasih :) 

Balada Pejuang ASI

Perjuangan seorang Ibu begitu besar saat melahirkan. Tak berhenti dari situ, selanjutnya seorang Ibu harus berjuang selama 6 bulan paska melahirkan bahkan sampai 2 tahun untuk memberikan ASI bagi buah hatinya hingga titik darah penghabisan. Kenapa? Karena setiap Ibu memiliki pengalaman dan kesulitan berbeda-beda dalam memberikan ASI. Ada tipe Ibu dengan produksi ASI melimpah sampai bisa bikin kolam mandi 7 bidadari, ada juga Ibu dibelahan bumi sana yang harus berdarah-darah mempertahankan produksi asinya selalu lancar dan cukup untuk memenuhi kebutuhan ASI anaknya. Pertanyaannya, aku masuk dalam tipe mana? Alhamdulillah, tentu saja yang berdarah-darah memperjuangkan produksi ASI :)).

Selama hamil aku rajin memgonsumsi Blackmores Pregnancy & Breast Feeding. Selain kaya akan vitamin untuk Ibu Hamil, juga baik untuk mempersiapkan proses mengAsihiku setelah melahirkan. Dan memang ini ngaruh banget buat aku. Setidaknya aku bisa memberikan Asi secara langsung meskipun perlu dibantu Paraji melalui pijatan pada payudara. Asiku kental, tapi produksinya tidak melimpah, bahkan seringnya selalu habis terkuras selama DBF (Direct Breast Feeding). Aku memiliki tipe PD gentong kecil. Gentong kecil kan tidak mempengaruhi produksi Asi, Bun? Iya, bener banget. PD kecil tidak mempengaruhi produksi Asi, dalam arti Asi akan selalu ada tapi limit daya tampungnya yang berbeda-beda. Misal PD udah keras banget dalam 2 sampai 3 jam, sampai ASI ngerembes. Si Gentong kecil kalo dipompa paling mentok di 200 sampai 300ml dari 2 PD. Makanya Gentong kecil dengan produksi Asi yang baik harus sering dipompa, PD harus sering dikosongkan untuk akhirnya terisi kembali.

Selama cuti, aku mendahulukan DBF. Dan memang sulit sekali mencari waktu untuk pumping dan mulai memanage stok ASIP. Setiap mau pumping pasti baby El kebangun minta mimik. Aku pun di awal menyusui nggak rajin pumping karena balada puting lecet dan hasil pumping setelah DBF begitu menyedihkan, hanya basahin botol aja :'D. Akhirnya aku memperkuat tekad untuk nabung ASIP, minimal 20 kantong sebelum masuk kerja. Alhamdulillah aku didukung penuh sama suami dan sahabat laktasiku. Yang diawal niat cuma nabung 20 ASIP akhirnya bisa nabung 60 ASIP. Gimana caranya? Nyicil. Dari hasil power pumping tengah malam dan dari hasil tampung menggunakan Silicon Breast Pump Manual. Aku pake yang no merek dikasih adikku. Kalau mau yang bermerek, bisa pakai merek Mooimoom.

Setelah masuk kerja, ternyata perjalanan awal pejuang ASI Ibu pekerja tak semudah yang dibayangkan. Aku bisa pumping 4 kali atau 2 jam sekali di tempat kerja, tapi kerjaanku yang sebagai user alat tes di Laboratorium keteteran. Alhasil aku kurangi menjadi 3 kali pumping. Hari pertama bekerja, aku membawa pulang 3 kantong ASI @ 120ml. Saat itu kebutuhan Baby El 5-6 kantong ASI selama hampir 12 jam aku tinggal kerja. Aku sudah merasa ketar ketir. Tapi suami menyemangati, jalani dulu, kita usaha dan pasrahkan untuk hasilnya pada Allah. Setelah 5 hari, hasil pumpingku tidak memperlihatkan peningkatan yang signifikan. Aku memutuskan untuk mengonsumsi ASI booster. ASI booster pertamaku Mamabear Soya Mix. Ini tidak terlalu pengaruh sama aku. Akhirnya kuganti lagi dengan Asifit. Alhamdulillah mulai ada peningkatan. Tapi nambahnya mentok di 20 ml masing-masing PD. Aku bisa bawa pulang 3,5 kantong ASI. Menyadari hasil pumpingku selama di kantor masih kurang mencukupi, suamiku memberi saran padaku untuk pumping di malam hari setelah Baby El tidur. Awalnya aku menolak, bahkan pengen nangis karena jadi takut kelelahan kurang tidur dan malah bikin produksi ASI makin seret. Tapi akhirnya aku coba. Saat itu baby El lagi aktif-aktifnya di siang hari dan terlelap tidur di malam hari. Terbangun hanya sesekali untuk mimik sebentar. Alhasil aku bisa 2x pumping jeda 2 jam, yaitu jam 2 dan 4 dini hari. Lumayan bisa nambah 2 hingga 2.5 kantong ASI. Total dengan hasil pumping aku di kantor menjadi 6 kantong.
from: Google

from: Google

Dari asifit, aku mulai mencoba Mamabear Teh Pelancar ASI. Ini cukup ngaruh di aku walaupun ga banyak. Cara penyajiannya cukup diseduh dengan air yang baru saja dididihkan, tunggu selama 10 menit sebelum diminum. Tapi karena di kantor hanya ada air panas dari dispenser, aku ngerasa proses penyeduhannya kurang optimal.

from: Google

Dari teh pelancar asi Mamabear, aku beralih ke Kelorcap (ekstrak daun kelor dalam kapsul). Asi Booster ini diclaim bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas Asi. Niat awal aku milih Kelorcap ini karena jika kuantitas nggak ningkat setidaknya kualitasnya. Kandungan lemak Asiku lebih banyak dan baby El pun jadi lebih mudah kenyang. Tapi alhamdulillahnya produksi aku pun ikut meningkat, bahkan sempat bikin PD kananku ngebagel karena nggak aku pompa. Jadi kebiasaanku saat weekend adalah mengutamakan DBF. Adapun pumping aku lakukan dini hari, itu pun kalau baby El nggak sering kebangun minta mimik pada dini hari. Kelorcap yang aku konsumsi hingga saat ini merek Lullabee, kenapa nggak Mom Uung yang lebih terkenal? Alasannya simple, karena Lullabee lebih murah. Hehe. Satu botol isi 50 kapsul dibandrol 75 ribuan saja. Aku minum 2 kapsul, 3 kali dalam satu hari. Kalau dirasa produksi ASI udah luber-luber alias PD dikit-dikit kenceng, konsumsi bisa dikurangi menjadi 1 kapsul, 3 kali dalam sehari. Setelah konsumsi daun kelor ini, aku bisa bawa pulang 4-5 kantong ASI dari tempat kerja. Dan kebetulan saat ini baby El aktif di malam hari dan tertidur pulas selama ditinggal kerja. Maksimal dia cuma abisin 5 kantong asi, seringnya hanya 4 kantong asi.

from: Google

Pernah ngalamin mommy shaming selama mengAsihi nggak sih, Bun? Pernah banget bahkan dari orang terdekat, yaitu mertua aku sendiri. Aku tinggal masih dengan mertua. Bisa dibayangkan awal-awal mengAsihiku nightmare nya kaya gimana. Nangis udah jadi makananku tiap hari karena kalimat-kalimat ajaib seperti, "Keluar nggak sih asinya?", "Nggak kenyang tuh, makanya tidurnya sebentar-sebentar.", "Pake dot aja, itu asinya ngga deres.", "Jangan makan pedes, nanti Asinya pedes." Dan masih banyak lagi, semua disponsori oleh mulut mertua. wkwkwk... Tapi setelah dijalani meskipun masih suka dongkol, aku mulai terbiasa dan membiarkan semuanya bagai angin lalu dan serpihan debu yang tak kasat mata. Aku meyakinkan diri aku, bahwa aku bisa, aku kuat.

Pakai alat pumping apa, Bun? Aku pakai pompa elektrik merek Spectra 9 Plus. Awalnya aku pakai handsfree untuk memudahkan selama di tempat kerja dan katanya hasil pumpingnya relatif lebih banyak dibandingkan dengan corong bawaan. Tapi balik lagi, yang namanya alat pompa itu cocok-cocokan. Selama menggunakan handsfree, PD-ku jadi sering ngebagel bahkan puncaknya pernah keras kaya papan dan nggak bisa sembuh sebelum dimimik-in langsung ke baby El. Selama di kantor nahan sakit yang luar biasa, rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum bercampur meriang. Akhirnya aku putuskan kembali menggunakan corong bawaan spectra. Dan alhamdulillah pengosongan PD relatif lebih optimal, aku udah makin jarang ngerasain ngebagel lagi di area PD aku, dan di aku hasil pumping jadi lebih banyak dibanding menggunakan handsfree.

from: Google (Spectra 9+)

from: Google (Handsfree Cup Spectra)

Managemen Pumping-nya kaya gimana selama di tempat kerja, Bun? Aku bagi jadi 3 sesi, yaitu 9 pagi, 1 siang dan 4 sore. Kadang aku bisa 4 kali kalau tiba-tiba produksi ASI turun yang disebabkan weekend over leha-leha. Jam 9 pagi aku rutinin power pumping, karena aku dual pump jadi waktunya 20 menit pumping, 10 menit rehat, 10 menit pumping, 10 menit rehat lagi, lalu 10 menit pumping lagi, total 1 jam pumping. Jam 1 siang, aku pumping 20 menit, rehat 10 menit, pumping lagi 10 menit. Jam 4 sore, aku pumping 20 menit, rehat 10 menit, 10 menit pumping lagi. Kok pumping di jam 1 siang dan 4 sore kaya gitu metodenya bun? Karena aku dapet saran dari teman kantor yang sudah jauh berpengalaman, dengan metode rehat 10 menit itu hasilnya lebih banyak dibanding 30 menit tanpa rehat. Dan itu ngaruh di aku. Biar lebih optimal lagi bisa lanjut Marmet setelah pumping. Marmet apa sih, Bun? Itu metode memerah Asi menggunakan tangan. Tutorialnya bisa lihat di youtube atau mbah google.

Bun, review spectra 9+ nya dong. Aku nyaman pakai spectra, dan belum bisa compare dengan merek lain karena  memang belum pernah coba, hehe. Tapi aku mau berbagi tips buat sesama pengguna spectra 9+. Ada dua mode di Spectra 9+ ini, mode massage lv. 1-5, dan mode expression lv. 1-10. Mode massage digunakan untuk memancing LDR, sedangkan mode expression untuk menyedot ASI saat LDR sudah tercapai. Kalau lagi mager, kadang aku pakai mode massage lv. 5 dari awal hingga akhir. Kalau lagi semangat 45, aku pakai tahapan sebagai berikut:

  1. Mode Massage lv. 5 hingga LDR (biasanya kalau aku 1 menit udah LDR)
  2. Mode Expression lv. 6 sampai LDR habis (biasanya LDR bisa tahan di aku sampai 5 menit)
  3. Mode Massage lv. 5, kalau bisa LDR lagi bisa langsung switch ke mode expression lv. 6 lagi, kalau nggak kepancing lagi LDR-nya ya mentok di mode massage lv. 5 sampai sesi pumping berakhir.


Cara tahu udah LDR gimana, Bun? Ujung puting kaya kesemutan, atau bisa lihat di corong ASI keluar lebih banyak, atau bisa juga dengan suara kucuran ASI yang bikin bahagia dunia akhirat di dalam botol.

Mode expression kan levelnya bisa sampai 10, kok cuma pake lv. 6, Bun? Nah, kalau ini sih berdasarkan pengalaman. Memang disarankan untuk menggunakan mode expression bertahap dari lv. yang lebih rendah, tapi kalau di aku lv. 6 ini adalah yang paling optimal. Bahkan kadang hanya menggunakan mode massage lv. 5 aja buat aku udah cukup.

Buat para pejuang ASI diluar sana, terutama yang tipe berdarah-darah kaya aku. Semangat ya. Kalian tidak sendiri. Percayalah setiap Ibu pasti bisa mengAsihi, setiap Ibu punya jalan dan perjuangannya masing-masing. Sering-seringlah melihat ke bawah jangan ke atas. Masih banyak di luar sana yang lebih kurang beruntung dibanding kita, tapi tetap masih bisa kuat memberi yang terbaik untuk anaknya. Syukuri berapapun hasil pumpingnya dan jangan jadikan sesi pumping sebagai target tapi jadikan sebagai aktivitas penuh kebahagiaan tanpa tekanan. Perbanyak makan 3-4 kalo dalam sehari, dan perbanyak minum air putih minimal 2 liter per hari. Berbahagialah para pejuang ASI.

Pengalaman Lahiran Normal Tanpa Induksi Buatan

Tepat 8 Oktober 2019 lalu adalah saat dimana saya merasakan pengalaman yang sangat menakjubkan. Dimana saya diberikan  kesempatan oleh Allah untuk merasakan nikmatnya melahirkan.

Selama hamil saya sudah mencari-cari literatur atau akun-akun yang menerangkan cara menghadapi lahiran normal yang nyaman, salah satunya adalah Bidan Kita. Beberapa hal yang sering saya temukan sebelum menghadapi lahiran adalah belajar nafas perut, hypnobirthing, cara menggunakan gymball dan peanutball, prenatal yoga, senam hamil, jalan cepat minimal 30 menit dalam sehari, dll.

Selama masa kehamilan, saya baru melakukan olah raga di trimester 2. Itu pun hanya mengambil paketan prenatal yoga selama 4 kali pertemuan. Saat itu saya melakukan prenatal yoga di Baby Prince Care Pamulang dengan Bidan Ika sebagai Doula. Banyak yang saya pelajari disana, terutama bagaimana cara mempraktekan nafas perut. Nafas perut ini perlu dilatih selama masa kehamilan untuk menghadapi kontraksi menjelang lahiran.

Trimester 3, saya ingin mencoba olah raga lain, yaitu senam hamil di RS Eka Hospital. Disana harus waiting list selama satu bulan. Saat itu pun saya hanya melakukan senam hamil disana sekali, karena tak lama dari itu saya harus ambil cuti dan langsung pulang kampung ke Sumedang. Honestly, saya lebih senang prenatal yoga dari pada senam hamil. Entah karena faktor instruktur, lingkungan atau memang saya lebih senang yoga.

Selama cuti hamil olah raga apa lagi? Saya olah raga yang gratis dan murah meriah, jalan kaki 30 menit sekali dalam sehari.

Saya mulai cuti hamil di week 37, tadinya mau week 38 tapi karena temen-temen di kantor lagi ngehits banget yang namanya pecah ketuban dini, untuk jaga-jaga saya mulai ambil cuti ketika masuk ke week 37. Saya bekerja di daerah Tangerang dan memutuskan untuk lahiran di kota Bandung, tepatnya di RS Al-Islam Bandung. Kenapa? Karena lumayan dekat dari tempat tinggal orang tua saya dan disana juga tempat adik saya bekerja jadi urusan administrasi dia bantu dari awal sampai akhir, saya tahu beres :D.

Week ke 38, posisi kepala bayi sudah dibawah tapi belum ngunci di panggul. Saya disuruh menaikan intensitas jalan kaki, malah saya disuruh jogging. Dari awalnya hanya 30 menit, saya naikkan menjadi 1 jam. Kontraksi sudah mulai terasa walau ternyata itu hanya kontraksi palsu.

Week ke 39, posisi bayi masih belum ngunci di panggul, belum ada pembukaan juga. Saya tidak lagi jogging, melainkan berlari, saking udah ga sabar pengen cepet cepet lahiran. Di week 39 ini saya sempat mendatangi 2 bidan. Bidan pertama, memberikan saya obat pelunak mulut rahim dengan dosis 2 tablet sehari agar mempercepat pembukaan. Di bidan kedua saya disuruh melanjutkan meminum obat pelunak mulut rahim tersebut, tapi dinaikan dosisnya menjadi 3 tablet sehari. Saat saya periksa ke bidan yang kedua, umur kehamilan saya tepat 40 weeks.

Sehari setelah periksa ke bidan yang kedua, saya masih melakukan lari pagi selama 1 jam. Saat itu seperti biasa saya merasakan kontraksi. Karena udah sering di PHP-in sama kontraksi palsu, saya abaikan rasa nyeri di perut saat berlari. Sampai akhirnya saat sore hari, adik saya melihat saya yang meringis setiap kali kontraksi muncul. Adik saya menyuruh saya untuk segera ke rumah sakit, dia menduga sudah ada pembukaan. Awalnya saya menolak, karena saya masih yakin ini hanya kontraksi palsu. Tapi adik saya memaksa, dia meyakinkan saya untuk segera ke rumah sakit. Ternyata benar saja, ketika masuk IGD dan diperiksa dalam oleh bidan jaga, saya sudah pembukaan 4 mau ke 5. Saya sangat bersyukur mendengarnya. Saat itu juga adik saya mengurus semua masalah administrasi dan juga menghubungi keluarga juga suami saya yang masih di Tangerang.

Proses pembukaan tidak terlalu mulus. Saya butuh waktu 4 jam menuju pembukaan 6 dari pembukaan 5. Padahal denger cerita orang tua, kalau udah pembukaan 5 biasanya suka cepet menuju lahiran. Dari awal pembukaan hingga pembukaan ini saya masih bisa menikmati makan masakan padang :D dan yang paling penting adalah saya masih bisa mempraktekan nafas perus saat kontraksi datang. Seberapa penting sih nafas perut? Penting banget, karena nafas perut ini bisa mengurangi rasa nyeri saar kontraksi, membuat kita lebih fokus dan tenang selama proses pembukaan.

Empat jam dari pembukaan 6, hanya naik menjadi pembukaan 8 saja. Dan disinilah saya mulai tidak bisa mengontrol diri. Sampai suami kena omel hanya karena nyuruh saya buat sabar. Disini saya sadar perlunya ikut Yoga Couple, agar suami juga mendapatkan ilmu penting dalam mendampingi istri selama proses lahiran. Para suami menjadi tahu bahwa istrinya itu sudah kuat dan sabar, daripada menyuruh sabar lebih baik support dengan tindakan seperti mengelus elus punggungnya atau sekedar mengingatkan untuk beristigfar. Kembali ke pembukaan 8 :D, disini saya mulai kesulitan mengatur nafas perut, dan emosi pun tak terkontrol. Beberapa kali saya meminta bidan untuk cek pembukaan karena rasa sakitnya sudah tak tertahan. Tapi pembukaan masih mentok di 8, saya belum bisa masuk ruang persalinan. Saya disarankan menggunakan peanut ball untuk mempercepat pembukaan. Lagi-lagi saya tidak bisa mengontrol emosi. Saya meminta suami untuk menjauhkan peanut ball karena ketika menggunakannya saya merasakan sakit yang lebih tidak tertahan lagi. Setiap kontraksi datang saya berbisik kepada suami, "Sakit banget.... aku ga kuat." Suami saya tampak tidak tega dan menawarkan untuk SC saja. Tapi saya menolak karena sudah hampir selesai perjuangan ini. Menuju pembukaan 8 dan menahan sakitnya itu bukan perkara mudah. Saya yakin masih bisa lahiran normal.

Satu jam berlalu dan rasa sakit semakin menjadi-jadi. ketika diperiksa dalam ternyata sudah pembukaan 9 dan saya pun disuruh memasuki ruang persalinan. Saya pikir masuk ruang persalinan langsung bisa lahiran, ternyata saya masih harus menunggu 1 jam lagi, kepala bayi belum cukup turun untuk mulai mengejan, pembukaan belum sempurna.  Satu jam terasa sangat lama dengan rasa nyeri seperti itu. Saat itu cuma mau bilang ibu ibu yang sudah lebih dulu merakan proses lahiran, kalian sungguh luar biasa.

Akhirnya pembukaan pun lengkap, itu pun dengan bantuan Bidan mempercepat turunnya kepala bayi. Padahal saya sempat ngebatin, "Ya Allah jika memang ternyata sudah jalannya saya harus diinduksi buatan saya siap dan jika sata harus SC, saya ikhlas, saya yakin Engkau akan memberikan jalan untuk masalah biaya." Saya lahiran di rumah sakit tanpa asuransi, karena dari tempat saya bekerja hanya diberikan BPJS yang untuk lahiran normal di RS yang kita inginkan itu agak sulit, sangat dibatasi birokrasi. Alhamdulillah berkat Nakes2 Al Islam yang sangat kooperatif dan juga sabar menengani saya yang penuh drama, bayi mungil itu pun terlahir ke dunia dengan selamat dan sehat.

Saat proses melahirkan, nafas saya buruk sekali, mengejan pun tidak dilakukan dengan tepat. Mungkin karena saya sudah lelah tidak tidur semalaman dan menahan rasa nyeri kontraksi. Proses mengejan hingga kepala bayi keluar itu saya lalui selama 2 jam, waktu yang sangat lama menurut saya. Ini juga pentingnya ikut kelas Prenatal Yoga TM3, karena disana diajarkan cara mengejan dan nafas saat proses persalinan, dan saya tidak mengikutinya.

Ya itulah pengalaman saya melahirkan secara normal dengan berbekal ilmu saat mengikuti Prenatal Yoga TM2, Senam Hamil, Rutin Gym Ball dan jalan cepat 30 - 1 jam sehari. Semoga postingan saya bermanfaat dan menginspirasi bumil-bumil di luar sana. Maaf jika alur cerita berantakan :D.