Night Skin Care Routine (Busui "friendly")

Pengen glowing tapi bingung harus pake skincare apa yang cocok untuk ibu menyusui. 

Tenang bund, sekarang banyak sekali pilihan skincare dari berbagai merek yang aman digunakan untuk ibu menyusui. 

Aku adalah tipe pengguna skincare yang ga bisa cuma pakai satu merek. Kenapa? Karena aku lebih suka memilih skincare berdasarkan review plus pengalamanku sendiri. 

Langsung aja ya bund aku sebutin satu per satu rangkaian skincare rutin aku sebelum tidur. 

1. St. Ives Energizing Coconut & Coffee Scrub
Ini adalah tahap awal proses membersihkan wajah dari kotoran atau sisa make up. Kalau sepulang kerja biasanya aku pakai milk cleanser terlebih dahulu sebelum mencuci muka dengan scrub dan atau facial wash biar double kill :'D.

Kenapa pilih ini? Karena concern aku adalah deep cleansing makanya aku pilih scrub yang bisa mengeksfoliasi tapi ga bikin kulit iritasi bahkan jika digunakan setiap hari. Dan aku dapetin itu semua di St. Ives varian ini. Sebenarnya St. Ives ini bikin dua varian deep exfo, Energizing dan Fresh Skin. Dan menurutku dua-duanya punya pengaruh yang sama buat kulit aku yang tipe kombinasi ini. 

2. Senka Facial Wash
Awal aku jatuh hati pada senka adalah ketika aku sangat terobsesi dengan skincare yang bisa mengeksfoliasi dan nge-claim bisa membersihkan pori yang tersumbat lemak. Dari berbagai varian, aku pilih Senka Perfect White Clay. 
Facial wash ini mengandung beberapa bahan seperti essence kepompong sutera yang dapat membersihkan kulit kusam, mencerahkan, Dan melembutkan. Double Hyaluronic Acid yang berfungsi untuk melembabkan kulit. White clay untuk deeply cleansing hingga ke dalam pori-pori. Dan Aqua In Pool yang dapat melembabkan kulit 30% lebih baik dari pelembab biasa. Di kulit aku, it works! Kulit terasa bersih tanpa meninggalkan efek kering di wajah alias kulit wajah tetap terasa lembab. 

3. CORSX AHA/BHA Clarifying  Treatment
Aku punya masalah di area hidung, selain karena aku berminyak parah di area T-Zone, juga karena di area hidung dan sekitarnya penuh dengan komedo putih dengan tekstur kulit landak. Kalau ga pakai toner untuk exfoliasi, hidung landakku benar-benar parah. 

Rata-rata skincare yang dapat mengeksfoliasi secara kimia itu mengandung AHA dan BHA sedangkan kedua zat aktif ini digadang-gadang sebagai zat berbahaya bagi ibu menyusui. Setelah membaca beberapa literatur, itu tidak sepenuhya benar. Ada yang menyatakan bahwa yang berbahaya itu adalah kandungan BHA di atas 3%. Oleh karena itu aku pilih skincare yang mengandung AHA/BHA ini hanya untuk toner. Why? Karena, toner saran penggunaannya adalah 2x sehari. Intensitas yang cukup tinggi untuk penggunaan exfoliator kimia. Sehingga biasanya pada toner kandungan BHA nya kurang dari sama dengan 1%. Bahkan seringnya dibawah 1%. Sehingga aku berani menggunakan toner mengandung AHA dan BHA ini. 
Apa sih claim-nya toner CORSX ini sampai bikin aku jatuh cinta? Toner ini nge-claim dapat mengangkat sel kulit mati, mencegah timbulnya komedo, dan memperbaiki serta menghaluskan tekstur wajah. Dan review berdasarkan pengalamanku, dibantu dengan kapas toner ini ampuh menurunkan intensitas kulit landak di area hidung dan sekitarnya, meskipun masih tidak hilang 100% tapi setidaknya sekitar 70% masalah kulit landakku terselesaikan. Seterharu itu aku sama skincare satu ini. 

4. Somethinc Niacinamide & Moisture Beet Serum
Ini nih jagoan serum gue yang bener-bener ngaruh banget di kulit 'badak' gue ini bahkan di satu bulan pertama. Lebih cepat dari claim mereka yang katanya 3 bulan baru terasa manfaatnya. 
Fungsi utama serum ini adalah menghilangkan jerawat dan nodanya, mencerahkan kulit, dan mencegah hyperpigmentasi. Sebenarnya ada beberapa fungsi lain, tapi aku sengaja highlight 3 fungsi yang aku sebutin diatas karena itulah yang aku rasakan sendiri manfaatnya. Khusus untuk menghilangkan jerawat, serum ini memang tidak sehebat BHA dan asam salisilat. Tapi untuk hal mencerahkan kulit dan menghilangkan noda jerawat, ini benar-benar solusi terbaik. Mungkin tiap orang dengan berbagai jenis kulit memiliki waktu yang berbeda pula untuk merasakan manfaat serum ini. Untuk mencerahkan, aku udah bisa rasain di satu bulan pemakaian, sedangkan noda jerawat bertahap hingga 3 bulan baru terasa optimal. Serum ini tidak dianjurkan digunakan bersamaan dengan AHA/BHA. Maka dari itu, aku jeda dari pemakaian toner sampai meresap sempurna baru lanjut ke serum. Lagipula kandungan AHA/BHA dalam toner yang aku pakai cukup kecil sehingga selama ini tidak ada masalah di kulitku dari penggunaan dua skincare tersebut. 

5. Roro Mendut Bright Lift Eye Cream
Seberapa penting sih eyecream buat wanita 30 tahun keatas? Menurutku yang pernah punya pengalaman kantung mata kering, ini sangatlah penting bahkan wajib. Ternyata salah satu faktor mengapa terjadi kerutan di area mata dan mata panda adalah kurang lembabnya kulit sekitar mata selain karena kurang tidur dan minum. 
Apakah harus RoroMendut? Tentu saja tidak, banyak merek lain yang membuat skincare satu ini. Dan bukan tipe wanita yang menolak tua, tapi setidaknya hindari apa yang bisa kita hindari. Minimal hindarkan kulit dari kekeringan apalagi area sekitar mata karena itu akan memperparah kerutan di sekitar mata, juga area kantung mata lebih mudah menghitam. Pengaruh signifikan yang aku rasain setelah menggunakan eye cream Roro Mendut ini adalah melembabkan. Kantung mataku jadi terhindar dari kekeringan sehingga kerutan besar karena kulit kering sangatlah berkurang. Kerutan halus belum terlalu terlihat pengurangannya, karena zuzur aku tidak terlalu memperhatikan titik kerutan halus di area mata, hehe. Untuk mata panda, aku hahya bisa bilang better tapi tidak menghilang 100%, tapi setidaknya ada penurunan. Sedangkan untuk fungsi eye lift belum aku rasain, karena mungkin hal ini bisa kita benar-benar notice kalau sudah berjalan minimal 5 tahun pemakaian, itupun jangan lupa bikin barang bunti before afternya. Karena kalau hanya modal daya ingat, niscaya ga bakalan terlalu ngeuh dengan perbedaannya. 

6.  Somethinc Bakuchiol Skinpair Oil Serum
Sebagai pecinta Somethinc Serum, ga cukup kayanya kalau cuma beli satu varian. Tapi balik lagi ke kebutuhan kulit masing-masing ya. Karena aku concern banget dengan tekstur kulit, komedo dan jerawat dengan berbagai permasalahannya, maka aku pilih skincare yang mendukung itu semua. 
Serum ini berbahan dasar natural lho, dengan manfaat sebagai antioxidant dan anti-aging. Zuzur aku sudah incer Retinol, tapi karena sangat-sangat dilarang digunakan ibu menyusui, maka aku cari alternatif lain. Sempat melirik rosehip oil, tapi kok hati ga sreg :)). Dan ketika tahu Somethinc membuat satu product yang digadang gadang sebagai pengganti Retinol, tanpa berpikir panjang diriku langsung purchase oil serum ini. Serum bakuchiol merek Somethinc ini memiliki beberapa skin concern seperti: kerutan, jerawat, hyperpigmentasi, garis halus, bruntusan, peradangan, komedo dan kulit kusam. Satu skincare dengan manfaat yang begitu luas dan tentunya yang aku butuhkan.

Bagi yang baru "Puber Skincare", aku cuma mau ngingetin untuk mempraktekkan hidup minimalis dalam menggunakan skincare. Maksudnya gini, biasakan membeli skincare sesuai kebutuhan kulit masing-masing bukan karena ikut-ikutan, karena lagi ngehype, atau karena korban iklan. Belilah skincare dengan fungsi yang sama setelah skincare sebelumnya habis atau akan habis untuk menghindari kemubadziran, karena biasanya salah satu ada yang pada akhirnya akan terbuang. Kalau ga cocok? Itu perkara lain, langsung buang atau bisa prelove di femaledaily atau juga bisa dihibahkan pada saudara yang membutuhkan, karena balik lagi tipe kulit masing-masing orang berbeda-beda, pun tingkat sensitifitasnya. Dan yang paling penting jangan terlalu terburu-buru memutuskan. Perhatikan baik-baik kandungan dan manfaatnya, saranku sering-sering cek review orang lain di femaledaily atau review produk di e-commerce kesayangan kamu. 

Thank you for reading my blog. Semoga bermanfaat. :*

Perjalanan Menuju Rumah Impian

Tangerang Selatan - 2020

Setelah sekian lama hiatus dalam dunia per-bloggan, akhirnya aku putuskan untuk sharing mengenai perjalananku menggapai rumah impian. 

Aku dan suami menikah di tahun 2017. Kami memutuskan untuk tidak membeli rumah tinggal terlebih dahulu. Saat itu kami berfikir kalau membeli kendaraan (mobil) lebih dibutuhkan untuk mobilisasi, sementara itu kami tinggal di rumah orang tua suami alias mertuaku. Pertimbangan lainnya adalah lama cicilan mobil bisa lebih cepat, sehingga tidak perlu menunggu waktu lama untuk mulai mencari rumah sesaat sebelum cicilan mobil lunas. Kami memulai semua dari nol, biaya resepsi pernikahan hasil dari kami menabung, pun membeli kendaraan, dan rumah pun sudah pasti hasil keringat sendiri. Sehingga kami harus memikirkan matang-matang dalam mengambil keputusan. 

Langsung saja ke topik pembahasan ya bund. Aku dan suami mulai mencari rumah di pertengahan tahun 2019. Kami mencari rumah indent dengan DP yang bisa dicicil setidaknya setahun, agar waktu pelunasan DP bisa berbarengan dengan mobil lunas, sehingga ketika BI checking saat pengajuan KPR, cicilan kami tidak terlalu banyak.

Ada beberapa perumahan di sekitar Tangerang Selatan yang kami incar dan saat itu kebanyakan ada di daerah Cisauk, Kabupaten Tangerang. Kenapa diasana? Karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah mertua. Kenapa harus dekat mertua? Karena aku dan suami bekerja, maka kami menitipkan anak di mertua. Anak kami sudah sangat dekat dengan neneknya, kalau tiba-tiba harus dititipkan ke orang lain atau daycare kasihan juga harus adaptasi ulang, dan pasti tidak mudah. Alasan lainnya karena akses ke pusat 'peradaban' lebih dekat :)), dekat tol, dekat stasiun, dekat mall, dekat pasar, dll. 

Perumahan yang saat itu kami incar antara lain, Springhill Yume Lagoon, Serpong Lagoon, Serpong Jaya dan Serpong Garden.Setelah observasi, kami mencoret Serpong Lagoon dari bucket list. Why? Pertama, karena jarak cluster ke jalan utama cukup jauh jadi perlu kendaraan pribadi atau pakai jasa ojol. Kedua, karena ada beberapa review kalau disana rentan banjir. Dan terakhir, harganya cukup pricey menurut kami.

Next, kami menghubungi serpong jaya untuk meminta pricelist. Dari segi harga menurut kami masih oke lah, tapi setelah melihat LT dan LB-nya kami mundur teratur. Menurut kami harga yang ditawarkan terlalu pricey untuk luas tanah dan luas bangunan yang tercantum. Dan satu hal lagi, aku pribadi kurang suka akses dari serpong ke pamulang. Ada beberapa titik jalan yang tiba-tiba menyempit kemudian melebar kembali yang menurutku bisa jadi biang kemacetan. Itu menurutku ya, mungkin sebagian orang punya pandangan lain dan aku hargai itu. 

Kemudian ada Springhill Yume Lagoon. Perumahan berkonsep Jepang ini adalah yang paling disukai suami. Akupun sempat kepincut. DP bisa dicicil. Akses juga oke, tidak terlalu jauh dari serpong. Tapi setelah menimbang-nimbang antara Springhill Yume Lagoon dan Serpong Garden, kami akhirnya oleng. 

Aku dan suami tidak berpikir panjang lagi untuk memilih Serpong Garden. Why? Karena DP bisa dicicil, itu sudah pasti. Luas tanah yang ditawarkan lebih besar dengan harga bersaing. Jarak cluster ke jalan utama sangat dekat, bahkan bisa jalan kaki. Dekat dengan tempat Wisata Saiji. Dekat stasiun. Cukup dekat dengan rumah mertua dan banyak promo lainnya yang sangat-sangat menggiurkan. Seperti potongan DP 10%, free surat-surat, dan lainnya yang aku lupa detailnya apa saja. Booking fee langsung kami bayar tunai sebesar 5jt rupiah.

Beberapa minggu setelah itu, badai pun datang menerpa. Tiba-tiba tetangga dekat mertuaku menawarkan tanah dengan luas 120 meter persegi plus bangunan yang bisa kita custom sesuka kita dengan harga yang sama dengan harga rumah yang akan kami beli di Serpong Garden. Dan yang lebih menggiurkan parahnya lagi adalah, lokasi tanahnya ada di samping perumahan batan indah. Itu artinya dengan harga rumah yang akan kami beli di Serpong Garden, kami mendapatkan LT yang jauh lebih luas, lokasi di kota Tangerang Selatan, dan layout rumah bisa custom suka-suka. Dengan mantap hati kami cancel Serpong Garden dan mulai membicarakan tentang membangun rumah dari tanah kosong sesuai dengan impian kami. 

Badai kedua pun menerpa kami. Karena pandemi yang seolah tak kunjung berakhir ini, perusahan tempat kami bekerja pun menjadi terdampak. Kenaikan gaji dan bonus tahunan yang tak menentu membuat kami banting stir. Kami bersyukur karena perusahaan tempat kami bekerja setidaknya masih memikirkan kesejahteraan karyawan disaat perusahaan lain collapse dan atau melakukan phk. Tapi apa yang kami dapatkan dari perusahaan setelah menjadi terdampak pandemi covid-19 ini seolah menjadi tamparan bagi kami. Impian kami terlalu tinggi, terlalu memaksakan, hampir melampaui batas kemampuan kami dari segi financial. Fyi, dari rentetan perumahan yang aku jabarkan diatas mematok harga mulai 800jt hingga 1M. Kami pun mulai menurunkan standar. Transaksi jual beli tanah plus bangunan pun kami cancel secara baik-baik dan terbuka. 

Tangerang Selatan, 2021

Kami mulai menurunkan standar, namun masih mengutamakan rumah dengan luas tanah yang tidak terlalu kecil. Kami mematok minimal LT 72 meter persegi. 

Ada banyak nama perumahan yang kami list dan kebanyakan ada di daerah pamulang. Banyak juga yang menawarkan dengan harga murah, tapi setelah di-observasi lebih dalam ternyata harga tertera adalah harga cash keras, dan untuk KPR kami harus mencari sendiri. Selain itu kami juga menyempatkan diri untuk mendatangi lokasi. Percayalah tidak ada rumah murah di kota Tangerang Selatan, haha. Ketika kamu mendapatkannya, ada satu hal yang perlu kamu curigai, yaitu akses menuju perumahan dari jalan utama. Kami memilih satu perumahan di daerah Pondok Benda, Pamulang untuk kami kunjungi. Jalan menuju cluster tidak terlalu sempit, tapi cukup bisa meningkatkan kesetresan jika kita menggunakan kendaraan roda empat dan di arah berlawanan ada mobil lain atau bahkan truck box. Samping kiri dan kanan ada pembatas, tidak ada bahu jalan yang bisa diandalkan. Kebayang kalau pulang kerja harus selalu merasa dihantui dengan kejadian yang sama. Niat mau istirahat malah stress. 

Dari Pamulang, kami coba belok ke Cisauk kembali. Kali aja masih jodoh sama perumahan daerah Cisauk. Ada satu perumahan yang sebenarnya dari dulu sempat membuatku jatuh cinta karena dari segi harga sangat murah meriah. Dengan 500-600 juta, kita sudah bisa mendapatkan rumah dengan luas tanah diatas 83 meter persegi di area Cisauk. Lokasi sangat dekat dengan Stasiun Cisauk. Nama perumahannya adalah Griya Mulia Cisauk. Saat kami menuju kesana, kami sangat terkejut dengan aksesnya yang sangat-sangat sempit, hanya bisa satu mobil. Ini lebih parah, bahkan tidak bisa dibandingkan dengan akses cluster di Pamulang yang sebelumnya kami datangi. Kalau pakai motor masih oke, tapi kalau pakai mobil, kita harus mundur ketika ada mobil lain di arah berlawanan. Itu minus yang pertama. Minus yang kedua adalah ketidaknyamanan kami dengan marketingnya. Menurut kami orang marketing yang melayani kami kurang bisa diajak bernegosiasi dan parahnya lagi malah menceramahi. Dan menurut kami yang sudah melakukan interaksi dengan banyak orang marketing di perumahan lain, ini adalah yang terburuk. Poin plusnya adalah proses KPR lebih mudah dan cepat karena mereka memiliki bank pribadi untuk proses KPR, pembangunan relatif lebih cepat maksimal 6 bulan dari lolos KPR, dan perumahan ini berbasis syariah, insyaallah bebas riba. 

Setelah mengarungi badai yang seolah mengombang ambing kami tanpa arah dan tujuan, akhirnya kami pun berlabuh ke dua pilihan perumahan di daerah Gunung Sindur. What? Iya, aku tahu itu sudah masuk kabupaten Bogor. Lagi-lagi kami menurunkan standar, kali ini sampai ke tahap menurunkan standar lokasi rumah, yang penting masih dekat dengan rumah mertua meskipun membuat kami semakin jauh dari tempat kami bekerja. It's Ok, saatnya kami merunduk, masih banyak diluar sana yang tidak seberuntung kami. Terus melihat keatas hanya akan membuat kami lelah. Kurang lebih itulah kalimat-kalimat penghibur kami. 

Jade Park 2 dan Blossom Park adalah dua jagoan terakhir kami. Pertama, kami melaju ke Jade Park 2. Diluar dugaan, awalnya kami pikir akses menuju kesana harus melewati jalan sempit, karena saat melihat di Google Maps lokasinya dekat dengan pemukiman warga. Tapi ternyata jalannya luas banget mirip jalan utama. Dan saat kami memasuki area cluster, kami langsung jatuh cinta dengan eksterior dan lingkungannya yang sangat-sangat asri. Saat itu kebetulan habis hujan, dan setelah melihat sekeliling, kami merasa seperti sedang berada di puncak bogor. Jalannya pun sudah pakai aspal. Lebay banget ya, tapi memang semenakjubkan itu. Begitupun dengan harga bangunannya, haha. Kami terpaksa menjadikan Jade Park 2 menjadi pilihan kedua, karena dari segi harga masih tidak jauh beda dengan Serpong Garden meskipun lebih banyak benefit yang kami dapat di Jade Park 2 ini. Salah satunya adalah DP nol persen. Tapi sebenarnya DP nol persen itu bisa jadi boomerang sih, karena itu artinya semakin besar cicilan KPR kita, haha. Orang marketingnya ramah-ramah dan penjelasannya sangat detail selama mendampingi kami melihat rumah contoh, juga sabar. Permulaan yang sangat baik pokoknya :D. Saat itu kami tertarik dengan tipe rumah 45/91 dan 60/72 dengan harga mulai 800jt-an.

Keesokan harinya kami memutuskan untuk mendatangi Blossom Park, 3 km lebih jauh dari Jade Park 2. Lokasinya tidak jauh dari pasar prumpung. First impression, wow ada mesjid cukup besar di dekat main gate. Akses masuk ke dalam cluster cukup ketat, ada satpam yang 24 jam menjaga mesin portal. Pemilik rumah disana dibekali kartu khusus, sedangkan pengunjung diwajibkan menitipkan KTP. Bangunan rumahnya bertemakan semi industrial. Sentuhan bata merah yang terekspos di fasadenya membuat bangunan tampak lebih cantik. Konsep rumahnya sendiri adalah rumah tumbuh dan kita bisa custom layout tanpa merubah fasade tentunya. Saat itu kami tertarik pada layout tipe Belladona, tapi karena luas tanah yang tersisa dibawah 72 meter persegi, kami pilih tipe lain yaitu New Camelia dengan LB 50, LT 83. Luas bangunan bisa custom jika ingin dirubah atau diperluas. DP bisa dicicil selama 4 bulan sebesar 10 persen atau cash sebesar 5 persen. Bekerja sama dengan banyak bank untuk pengajuan KPR, konvensional maupun Syariah. Bismillah, dan kami pun menjatuhkan pilihan pada New Camelia, Blossom Park dengan harga dibawah 700jt.

Semua tipe rumah di Blossom Park ini adalah bangunan dua lantai. Luas bangunan rata-rata dibawah 60 dengan menyisakan lahan kosong di belakang rumah yang bisa kita bangun kembali atau dibuat taman belakang rumah yang asri. LB 50, dua lantai? Ya, memang ukuran masing-masing ruangan menjadi minimalis, yang terdiri dari 2 kamar tidur, 2 kamar mandi, 1 dapur, 1 ruang tamu yang merangkap sebagai living room bahkan bisa disandingkan dengan ruang makan tanpa sekat. Tapi jangan khawatir, karena kita dibebaskan untuk  merubah layout. Pada tipe New Camelia ini memiliki 2 pintu masuk, satu pintu menuju living room dan satu pintu lagi menuju dapur. Dari pintu masuk living room di hadapan kita ada rolling door kaca besar menghadap taman belakang. Salah satu poin rumah impian kami adalah adanya cross ventilation di dalam rumah. Selain itu di rumah ini juga sangat mengoptimalkan peletakkan jendela, sehingga sinar matahari akan lebih leluasa menerangi seisi rumah tanpa terkecuali, sehingga kita bisa lebih menghemat listrik di siang hari. 

Setelah oleng kesana kemari dalam mencari rumah untuk tinggal, kami lebih santai menjalani prosesnya. Kalau memang jodoh ya pasti dipermudah jalannya. Saat itu tipe new camelia hanya tersisa 1 unit. Dan disaat yang bersamaan dengan kedatangan kami mendatangi kantor pemasaran Blossom Park, saat itu pula PT. PP sudah mengincar sisa satu tanah tipe itu untuk dipasarkan. Selain itu harga per hari itu naik. Balik lagi, kalau jodoh pasti jalannya akan dipermudah. Alhamdulillah kami mendapatkan harga lama dengan cicilan DP 10% selama 5 bulan yang harusnya 4 bulan saja maksimal. Bismillah ya bund :D. Oh iya booking fee di Blossom Park ini terbilang cukup murah, yaitu 2,5jt. Bahkan ini lebih murah jika diandingkan dengan Griya Mulia Cisauk, yaitu 10jt.

Nih, aku kasih lihat fasade dan layout rumah tipe New Camelia di Blossom Park yang aku comot dari website-nya. Jujur, aku kesulitan mencari informasi mengenai Blossom Park secara online diluar website-nya. Aku dan suami tahu tentang Blossom Park saja dari papan iklan dekat rumah mertua. Sesampainya disana tipe Belladona dengan LT 72 sudah sold out, dan tipe New Camelia hanya tersisa 1 unit, bahkan rumah contohnya pun sudah laku terjual. Dulu sempat cari di IG-nya untuk melihat bangunan realnya untuk tipe New Camelia ini. 

Dan hanya gambar ini yang bisa aku dapatkan. Diposting saat bulan april 2020 lalu, progress pembangunan pertama yang akan dijadikan rumah contoh. Belum genap 1 tahun, semua unit tipe ini sudah terjual habis. Aku dan suami pikir, mungkin ini yang dinamakan jodoh. Kita telat sehari saja, mungkin sudah kehabisan. Karena saat aku survey kesana untuk kedua kalinya, sekaligus untuk tanda tangan beberapa surat, ada satu pasangan yang tertarik dengan tipe yang sama, yaitu New Camelia. Tapi sayang, aku dan suami adalah pembeli terakhir untuk tipe ini. Sebenarnya masih ada tipe Camelia dengan LT 60, Belladona dengan LT 63-66, dan tipe paling mewah ada Azalea dengan LB 60 LT mulai 72. Fyi, untuk tipe Azalea ini sudah termasuk fasilitas Smart Home. Zuzur, aku sempat oleng ke Azalea, tapi lagi-lagi kami sadar untuk jangan memaksakan melihat harga tipe ini hampir mencapai 900jt :D.

Terakhir, sebelum aku akhiri sharing kali ini mengenai rumah impian, di Blossom Park ini juga dilengkapi Club House, salah satu fasilitasnya adalah Kolam Renang. Tapi belum mulai dibangun karena menunggu pembangunan di sekitar area rencana Club House rampung. Aku paham sih, untuk membuat kolam renang harus dipastikan tidak ada debu di area sekitar kolam. 

Baiklah, sekian sharing ngalor ngidulku pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat. Terima Kasih. 

Review Jujur Diapers Merries Vs Mamy Poko

Sebagai orang tua sudah sewajarnya ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, apalagi anak pertama. Teorinya 'ada harga ada kualitas'. Tapi kenyataannya tak semua orang tua diberikan kemampuan lebih untuk memberikan sesuatu yang mahal dengan kualitas yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Salah satu item wajib untuk newborn dan juga sifatnya fast moving ialah diapers. Banyak merek yang ditawarkan dengan keunggulannya masing-masing dan juga dengan harga yang bervariasi, dari yang termurah dan termahal. Saya sebagai ibu baru memiliki pengalaman tersendiri dalam memilih merek diapers. 

Diapers pertama yang saya pakaikan pada baby El adalah mamy poko x-tra kering diapers sejuta umat dengan harga yang murah. Apakah baby El cocok dengan merek diapers sejuta umat ini? Awalnya saya pikir cocok dan tidak pernah berfikir kalau diapers yang kurang cocok dapat membuat kulit bayi iritasi. 

From: Google.com

Dari sebelum menggunakan diapers (masih menggunakan popok kain), baby El sering mengalami ruam popok. Saat itu saya sering memakaikan zwitsal baby cream with zinc pada area ruam, dan cream ini ngaruh banget buat baby El. Ruam hilang seketika. Namun saat umur baby El menuju 3 bulan, tak hanya ruam yang muncul tapi juga benjolan seperti jerawat di dekat lubang anus. Saya dan suami sempat membawa ke DSA hingga dirujuk ke dokter spesialis bedah anak. Karena benjolan bernanah menyerupai jerawat itu tidak membuat baby El kesakitan ketika disentuh, dokter menyarankan untuk melakukan operasi kecil agar nanahnya bisa dikeluarkan tanpa sisa. Harga untuk operasi kecil seperti itu saja bisa mengeluarkan biaya hampir mencapai 20jt. Saya dan suami memutuskan untuk mengulur waktu sambil terus mengoleskan salep antibiotik yang diresepkan oleh DSA. Saat mengunjungi DSA pertama kali, baby El diresepkan salep antibiotik dan disarankan untuk menjaga diapers tetap kering, yaitu dengan telaten mengganti diapers jika mulai basah. Benjolan seperti jerawat pada area anus bisa disebabkan pup dan air kencing yang dibiarkan terlalu lama bersentuhan dengan kulit bayi yang tengah ruam. 

Benjolan berisi nanah itu pun pada akhirnya pecah. Baby El tidak merasakan sakit sama sekali. Kecuali ketika beberapa kali saya bersihkan area bernanah dengan menggunakan alcohol swab, baby El tampak kurang nyaman karena perih. Apakah nanahnya tidak muncul lagi? Ternyata pada saat tak terduga benjolan bernanah itu kembali lagi di titik yang sama. Bahkan benjolan menjadi bertambah satu lagi di sisi lainnya. Saya dan suami mencoba untuk tenang dan mencari solusi. Hingga akhirnya kami diberikan petunjuk ketika sedang belanja bulanan di suatu supermarket. Saat hendak membeli diapers, mata kami berdua tak sengaja melirik ke arah merries Good Skin Cegah Iritasi. Kami memutuskan mengganti merek diapers untuk baby El. Harganya lebih mahal sedikit dibanding Mamy Poko X-tra Kering, tapi masih jauh jauh lebih murah dibandingkan Pampers.

From: Google.com

Alhamdulillah setelah menggunakan diapers merek Meries, benjolan bernanah di area anus berangsur mengempis, hingga akhirnya tidak pernah muncul sama sekali. Bahkan ketika saya beberapa kali kelupaan mengganti diapers, area anus baby El masih aman terkendali. Saya dan suami memutuskan untuk meneruskan penggunaan Merries karena ternyata lebih cocok untuk kulit baby El. 

Sekian postingan dari saya mengenai review diapers, semoga bermanfaat. Terima Kasih :D.

Perlengkapan Mpasi Kamayel

Setelah jatuh bangun berdarah-darah akhirnya baby El lulus juga asi eksklusif 6 bulan. Itu artinya ada tantangan baru bagi saya dan El, yaitu masa mpasi. Dimana bayi udah boleh makan makanan pendamping asi karena nutrisi yg terkandung dalam asi tak lagi mencukupi kebutuhan bayi. Lalu apa saja yang perlu dipersiapkan menjelang mpasi? 
Berikut saya rangkum beberapa item yang perlu dipersiapkan dalam menyambut mpasi. 

Booster Seat
Item ini wajib dipersiapkan untuk membantu posisi duduk pada bayi, karena dilengkapi safety yang mencegah bayi terjatuh saat duduk. Bayi wajib diperkenalkan untuk duduk saat makan ya bun. Seperti halnya kita orang dewasa, duduk ketika sedang makan, tidak sambil tiduran bukan? 

Untuk booster seat, saya lebih memilih yang bisa dilipat dan portable, agar mudah dibawa bepergian. Dan lebih memilih low chair yang bisa juga diset menjadi highcair dengan menempatkan booster seat diatas kursi. Booster seat pilihan saya jatuh pada Summer Pop n' Sit karena diantara booster seat merek lain, merek summer dengan tipe inilah yang paling ringkas, mudah dilipat, mudah dibawa bepergian. Modelnya mirip kursi lipat yang sering dipakai oleh sutradara. 

From: Google.com
Slow Cooker
Sebagai ibu pekerja, saya sarankan untuk membeli slow cooker karena lebih memudahkan juga efisien. Kita hanya perlu mengatur tombol timer, menunggu makanan matang sambil bisa melakukan hal lain, seperti cuci botol atau alat pumping kotor misalnya. Slow cooker yang saya gunakan merek baby safe, hadiah dari saudara lebih tepatnya. Kebetulan tipe SC yang saya gunakan ini tipe lama yang tidak menggunakan timer. Hanya ada pilihan Low untuk menghangatkan makanan, High untuk memasak makanan, Auto untuk memasak + menghangatkan ketika makanan sudah matang. Saya lebih sering menggunakan yang High, lama memasak 3-4 jam tergantung banyaknya makanan yang ingin dimasak. 
From: Google.com

Perlengkapan Memasak Lainnya
Ada beberapa item pendukung untuk mempersiapkan makanan setelah dimasak. Pertama, handblender. Kenapa nggak blender biasa aja sih? Menurut saya hand blender lebih mudah dan cepat dalam penggunaannya. Membersihkannya pun tak perlu waktu lama dan handling-nya pun sangat mudah apalagi untuk mem-variasikan tekstur makanan. Merek handblender yang saya pilih adalah Little Giant. Karena murah dan bisa dibilang kalau di dunia per mpasi-an, merek ini adalah merek hand blender sejuta umat. Hehe. 

From: Google.com

Kedua, saringan. Saya memilih saringan kawat berdiameter sedang, yaitu 13,5cm. Ukuran sebesar ini menurut saya sangatlah cukup. Jika terlalu kecil, proses penyaringan menjadi lebih lama, terlalu besar juga akan mempersulit proses penampungan hasil saring. Kok abis diblender masih disaring? Kalau saya tujuannya untuk lebih memastikan bahwa bubur yang saya buat benar-benar lumat. Apalagi jika menunya mengandung prohe daging ayam atau daging sapi yang berpeluang besar menyisakan ampas. 
From: Google.com

Ketiga, masher. Masher pilihan saya jatuh pada babysafe. Selain murah, juga penggunaannya mudah dan makanan bisa langsung disajikan dari mangkuknya. Jadi gak bakal banyak cucian. Haha. 
From: Google.com

Sebenarnya ada berbagai merek yang menawarkan food maker, seperti ritchell, pigeon, kiddy, lusty bunny dan masih banyak lagi. Satu set food maker terdiri dari masher, saringan, pemeras jeruk, parutan dan mangkuk penampung. Tapi saya lebih memilih membeli ketengan, karena untuk pemeras jeruk saya sudah punya bahkan punya dua biji, parutan jangan ditanya udah pasti punya sebelum punya anak :'D, saringan pun saya lebih memilih yang full kawat dan stainless karena lebih awet, bukan yang kawat dengan pinggiran plastik, apalagi yang full plastik seperti pada merek baby safe. 

Alat Makan dan Minum
Item ini tak kalah penting. Saya memilih peralatan makan yang bisa dibawa saat bepergian. Untuk mangkuk makan saya membeli Munchkin love a bowls yang udah satu set dengan tutup serta softspoon.

From: Google.com

Selain itu saya juga membeli little baby food container 160ml. Container multifungsi yang dilengkapi takaran. Sehingga kita dapat memantau banyaknya volume makanan yang dimakan oleh anak kita setiap harinya.

From: Google.com

Sedangkan untuk stok (snacking) puree buah, saya membeli multi food container baby safe berukuran 50ml. Kok kecil? Sengaja biar bisa dibuat 2 kali makan. Untuk snacking saya prefer porsi kecil tapi pemberian lebih dari satu kali dalam sehari. 

From: Google.com

Peralatan makan sudah, sekarang peralatan minum. Kalau gelas saya pakai apa saja, nggak pake merek spesifik. Tapi kalau untuk training bottle, saya percayakan pada Dr Browns. Saya beli dua tipe, yaitu straw cup dan spout. Menurut saya spout lebih cocok untuk bayi yang baru memulai mpasi dibanding yang tipe straw, karena effort untuk menyedot lebih mudah yang spout dibanding straw. Mungkin tipe straw dapat mulai diberikan pada saat bayi berumur 8 bulan. 
From: Google.com

Tipe spout merek Dr. Browns ini memiliki kempuan menahan air tumpah meskipun posisi botol dibalik. Air hanya akan keluar jika karet disedot oleh mulut bayi atau digigit. 

Dr. Brown's straw cup memiliki bola pemberat diujung sedotannya, sehingga memudahkan bayi tetap bisa memyedot minuman dalam keadaan tiduran atau terlentang. Meskipun bola pemberat kadang tidak semudah itu bergerak terutama jika bersentuhan dengan dinding botol karena kesat. Tapi bahannya menurut saya tahan banting. Pernah sekali botol terjatuh dari ketinggian 1,2 meter, tapi botol tetap mulus, tidak pecah dan penyok.
From: Google.com

Sekian sharing dari saya mengenai alat tempur menjelang mpasi. Semoga postingan saya kali ini bermanfaat. Terima kasih :) 

Full Puasa Ramadhan Selama Menyusui

Sebelum memulai sesi sharing kali ini mengenai berpuasa bagi ibu menyusui, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. 
- Anak sudah memasuki masa Mpasi
- Bahasan kali ini relate dengan ibu menyusui yang bekerja
- Hasil pumping sebelum puasa masuk dalam kategori cukup atau tidak campur sufor

Di postingan saya yang berjudul "Balada Pejuang Asi" saya sudah menceritakan banyak hal, dari mulai hasil pumping yang pas-pas an bahkan kadang defisit. Tapi karena saya modal keukeuh saya untuk memberikan asi eksklusif untuk anak saya mengantarkan saya sukses asi eksklusif 6 bulan. Saat ini anak saya sudah memasuki masa mpasi. Ternyata setelah memasuki mpasi ini konsumsi asi anak saya berkurang drastis, dari yang sebelumnya bisa habis 6-8 kantong asi 100ml, sekarang hanya 4-5 kantong asi dengan volume yang sama.

Menjelang bulan suci ramadhan, yaitu sekitar seminggu sebelum anak saya mpasi saya sedikit ragu untuk berpuasa selama bulan ramadhan, karena dari beberapa pengalaman orang-orang, peoduksi asi menurun hingga 50% ketika bulan puasa. Sudah pasti penyebab utamanya adalah kurangnya asupan cairan selama berpuasa. Saya sempat berdebat dengan suami, karena suami saya lebih setuju kalau saya tetap berpuasa. Menurut paksu, saat mpasi kebutuhan asi anak pasti menurun, dan stok asip di freezer (alhamdulillah) mencukupi walaupun ekstrimnya saya tidak menghasilkan asi perah selama bulan puasa. Tapi saya ragu karena beberapa teman saya bilang, produksi asi menurun banyak saat berpuasa dan kebutuhan asip anaknya tidak menurun sama sekali setelah mpasi. 

Setelah diskusi alot dengan suami, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba berpuasa selama satu minggu, jika ada penurunan yang signifikan pada produksi asi, maka saya tidak melanjutkan berpuasa. 

Beberapa hari sebelum bulan ramadhan saya mencari artikel mengenai berpuasa bagi ibu menyusui. Di agama saya yaitu agama Islam memberikan keringanan bagi ibu menyusui. Jika dirasa berpuasa dapat mengurangi asupan asi bagi anak maka sebaiknya tidak berpuasa dan menggantinya dengan fidyah atau meng-qada. Bagi yang ingin tetap berpuasa, pada satu artikel menyebutkan untuk makan tetap 3 kali sehari yaitu saat sahur, berbuka dan setelah shalat tarawih. Kemudian perbanyak minum air putih dari saat waktu berbuka hingga saat sahur. Selain itu konsumsi air nabeez, susu sebagai sumber vitamin D (saya pakai ultra milk uht), dan sari kurma. 

From: Google.com

Cara membuat air nabeez
Bahan:
- Kurma 5 s/d 7 butir (saya pakai kurma khalas) 
- Air putih 300 s/d 400ml
Cara membuat:
- Belah kurma dan keluarkan bijinya
- Masukkan kurma tanpa biji ke dalam gelas bertutup atau tumbler
- Tambahkan air putih
- Tutup gelas dan masukkan ke dalam kulkas selama 6 jam (maksimal 12 jam)
- Air Nabeez sunah rasul siap untuk dikonsumsi. 

Karena saya termasuk golongan pemalas, maka saya mengganti air putih dengan susu UHT agar sekali menyelam dua pulau terlampaui. Hehe. Air nabeez saya konsumsi saat berbuka karena lebih segar diminum dalam keadaan dingin, sedangkan saat sahur saya konsumsi sari kurma sebanyak satu sendok makan. 

Hasilnya bagaimana? Alhamdulillah produksi asi saya tidak mengalami penurunan signifikan. Saya masih bisa menghasilkan 6 kantong asi per harinya dan kebutuhan asi anak saya 4-5 kantong, jadi masih surplus 1-2 kantong. Alhasil freezer saya yang hanya satu biji, itupun dari kulkas dua pintu semakin desak-desakan. Satu sisi saya sangat bersyukur stok asi selama bulan puasa surplus tapi di sisi lain bingung, kalau sudah penuh banget mau ditaruh dimana asipnya. Untungnya sebelum itu terjadi, saya sudah masuk cuti lebaran, jadi saya hanya perlu dbf. Kalaupun saya harus pumping, hasil pumpingnya saya kasih ke anak saya menggunakan alat bantu dot. 

Buat yang anaknya belum mpasi atau masih asi eksklusif apakah masih bisa berpuasa? Jawabannya bisa. Pastikan stok asi memenuhi (setidaknya ada 40-60 kantong asi biar tenang selama menjalankan ibadah puasa, gak usah stress stok seret), weekend atau saat full dbf disarankan untuk tidak berpuasa, karena kebutuhan bayi masih dari asi, sedangkan kita tidak bisa menakar saat dbf. Kalau anak sudah mpasi, tenang insyaallah jika pemberian mpasi sudah benar, kebutuhan asi anak pun berkurang. Selain itu coba dulu selama seminggu, jika produksi asi menurun hingga 50%, sebaiknya hentikan berpuasa dan konsumsi Domperidone 2-3 tablet per hari selama satu minggu.

From: Google.com

Domperidone adalah obat mual yang memiliki side effect memperlancar asi. Tapi ingat ya, konsumsi jika produksi asi menurun hingga 50% saja dan jangan berlebihan. 

Semoga postingan saya kali ini bermanfaat terutama bagi para pejuang asi yang ingin melaksanakan puasa di bulan suci ramadhan ini. Terima Kasih :) 

Balada Pejuang ASI

Perjuangan seorang Ibu begitu besar saat melahirkan. Tak berhenti dari situ, selanjutnya seorang Ibu harus berjuang selama 6 bulan paska melahirkan bahkan sampai 2 tahun untuk memberikan ASI bagi buah hatinya hingga titik darah penghabisan. Kenapa? Karena setiap Ibu memiliki pengalaman dan kesulitan berbeda-beda dalam memberikan ASI. Ada tipe Ibu dengan produksi ASI melimpah sampai bisa bikin kolam mandi 7 bidadari, ada juga Ibu dibelahan bumi sana yang harus berdarah-darah mempertahankan produksi asinya selalu lancar dan cukup untuk memenuhi kebutuhan ASI anaknya. Pertanyaannya, aku masuk dalam tipe mana? Alhamdulillah, tentu saja yang berdarah-darah memperjuangkan produksi ASI :)).

Selama hamil aku rajin memgonsumsi Blackmores Pregnancy & Breast Feeding. Selain kaya akan vitamin untuk Ibu Hamil, juga baik untuk mempersiapkan proses mengAsihiku setelah melahirkan. Dan memang ini ngaruh banget buat aku. Setidaknya aku bisa memberikan Asi secara langsung meskipun perlu dibantu Paraji melalui pijatan pada payudara. Asiku kental, tapi produksinya tidak melimpah, bahkan seringnya selalu habis terkuras selama DBF (Direct Breast Feeding). Aku memiliki tipe PD gentong kecil. Gentong kecil kan tidak mempengaruhi produksi Asi, Bun? Iya, bener banget. PD kecil tidak mempengaruhi produksi Asi, dalam arti Asi akan selalu ada tapi limit daya tampungnya yang berbeda-beda. Misal PD udah keras banget dalam 2 sampai 3 jam, sampai ASI ngerembes. Si Gentong kecil kalo dipompa paling mentok di 200 sampai 300ml dari 2 PD. Makanya Gentong kecil dengan produksi Asi yang baik harus sering dipompa, PD harus sering dikosongkan untuk akhirnya terisi kembali.

Selama cuti, aku mendahulukan DBF. Dan memang sulit sekali mencari waktu untuk pumping dan mulai memanage stok ASIP. Setiap mau pumping pasti baby El kebangun minta mimik. Aku pun di awal menyusui nggak rajin pumping karena balada puting lecet dan hasil pumping setelah DBF begitu menyedihkan, hanya basahin botol aja :'D. Akhirnya aku memperkuat tekad untuk nabung ASIP, minimal 20 kantong sebelum masuk kerja. Alhamdulillah aku didukung penuh sama suami dan sahabat laktasiku. Yang diawal niat cuma nabung 20 ASIP akhirnya bisa nabung 60 ASIP. Gimana caranya? Nyicil. Dari hasil power pumping tengah malam dan dari hasil tampung menggunakan Silicon Breast Pump Manual. Aku pake yang no merek dikasih adikku. Kalau mau yang bermerek, bisa pakai merek Mooimoom.

Setelah masuk kerja, ternyata perjalanan awal pejuang ASI Ibu pekerja tak semudah yang dibayangkan. Aku bisa pumping 4 kali atau 2 jam sekali di tempat kerja, tapi kerjaanku yang sebagai user alat tes di Laboratorium keteteran. Alhasil aku kurangi menjadi 3 kali pumping. Hari pertama bekerja, aku membawa pulang 3 kantong ASI @ 120ml. Saat itu kebutuhan Baby El 5-6 kantong ASI selama hampir 12 jam aku tinggal kerja. Aku sudah merasa ketar ketir. Tapi suami menyemangati, jalani dulu, kita usaha dan pasrahkan untuk hasilnya pada Allah. Setelah 5 hari, hasil pumpingku tidak memperlihatkan peningkatan yang signifikan. Aku memutuskan untuk mengonsumsi ASI booster. ASI booster pertamaku Mamabear Soya Mix. Ini tidak terlalu pengaruh sama aku. Akhirnya kuganti lagi dengan Asifit. Alhamdulillah mulai ada peningkatan. Tapi nambahnya mentok di 20 ml masing-masing PD. Aku bisa bawa pulang 3,5 kantong ASI. Menyadari hasil pumpingku selama di kantor masih kurang mencukupi, suamiku memberi saran padaku untuk pumping di malam hari setelah Baby El tidur. Awalnya aku menolak, bahkan pengen nangis karena jadi takut kelelahan kurang tidur dan malah bikin produksi ASI makin seret. Tapi akhirnya aku coba. Saat itu baby El lagi aktif-aktifnya di siang hari dan terlelap tidur di malam hari. Terbangun hanya sesekali untuk mimik sebentar. Alhasil aku bisa 2x pumping jeda 2 jam, yaitu jam 2 dan 4 dini hari. Lumayan bisa nambah 2 hingga 2.5 kantong ASI. Total dengan hasil pumping aku di kantor menjadi 6 kantong.
from: Google

from: Google

Dari asifit, aku mulai mencoba Mamabear Teh Pelancar ASI. Ini cukup ngaruh di aku walaupun ga banyak. Cara penyajiannya cukup diseduh dengan air yang baru saja dididihkan, tunggu selama 10 menit sebelum diminum. Tapi karena di kantor hanya ada air panas dari dispenser, aku ngerasa proses penyeduhannya kurang optimal.

from: Google

Dari teh pelancar asi Mamabear, aku beralih ke Kelorcap (ekstrak daun kelor dalam kapsul). Asi Booster ini diclaim bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas Asi. Niat awal aku milih Kelorcap ini karena jika kuantitas nggak ningkat setidaknya kualitasnya. Kandungan lemak Asiku lebih banyak dan baby El pun jadi lebih mudah kenyang. Tapi alhamdulillahnya produksi aku pun ikut meningkat, bahkan sempat bikin PD kananku ngebagel karena nggak aku pompa. Jadi kebiasaanku saat weekend adalah mengutamakan DBF. Adapun pumping aku lakukan dini hari, itu pun kalau baby El nggak sering kebangun minta mimik pada dini hari. Kelorcap yang aku konsumsi hingga saat ini merek Lullabee, kenapa nggak Mom Uung yang lebih terkenal? Alasannya simple, karena Lullabee lebih murah. Hehe. Satu botol isi 50 kapsul dibandrol 75 ribuan saja. Aku minum 2 kapsul, 3 kali dalam satu hari. Kalau dirasa produksi ASI udah luber-luber alias PD dikit-dikit kenceng, konsumsi bisa dikurangi menjadi 1 kapsul, 3 kali dalam sehari. Setelah konsumsi daun kelor ini, aku bisa bawa pulang 4-5 kantong ASI dari tempat kerja. Dan kebetulan saat ini baby El aktif di malam hari dan tertidur pulas selama ditinggal kerja. Maksimal dia cuma abisin 5 kantong asi, seringnya hanya 4 kantong asi.

from: Google

Pernah ngalamin mommy shaming selama mengAsihi nggak sih, Bun? Pernah banget bahkan dari orang terdekat, yaitu mertua aku sendiri. Aku tinggal masih dengan mertua. Bisa dibayangkan awal-awal mengAsihiku nightmare nya kaya gimana. Nangis udah jadi makananku tiap hari karena kalimat-kalimat ajaib seperti, "Keluar nggak sih asinya?", "Nggak kenyang tuh, makanya tidurnya sebentar-sebentar.", "Pake dot aja, itu asinya ngga deres.", "Jangan makan pedes, nanti Asinya pedes." Dan masih banyak lagi, semua disponsori oleh mulut mertua. wkwkwk... Tapi setelah dijalani meskipun masih suka dongkol, aku mulai terbiasa dan membiarkan semuanya bagai angin lalu dan serpihan debu yang tak kasat mata. Aku meyakinkan diri aku, bahwa aku bisa, aku kuat.

Pakai alat pumping apa, Bun? Aku pakai pompa elektrik merek Spectra 9 Plus. Awalnya aku pakai handsfree untuk memudahkan selama di tempat kerja dan katanya hasil pumpingnya relatif lebih banyak dibandingkan dengan corong bawaan. Tapi balik lagi, yang namanya alat pompa itu cocok-cocokan. Selama menggunakan handsfree, PD-ku jadi sering ngebagel bahkan puncaknya pernah keras kaya papan dan nggak bisa sembuh sebelum dimimik-in langsung ke baby El. Selama di kantor nahan sakit yang luar biasa, rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum bercampur meriang. Akhirnya aku putuskan kembali menggunakan corong bawaan spectra. Dan alhamdulillah pengosongan PD relatif lebih optimal, aku udah makin jarang ngerasain ngebagel lagi di area PD aku, dan di aku hasil pumping jadi lebih banyak dibanding menggunakan handsfree.

from: Google (Spectra 9+)

from: Google (Handsfree Cup Spectra)

Managemen Pumping-nya kaya gimana selama di tempat kerja, Bun? Aku bagi jadi 3 sesi, yaitu 9 pagi, 1 siang dan 4 sore. Kadang aku bisa 4 kali kalau tiba-tiba produksi ASI turun yang disebabkan weekend over leha-leha. Jam 9 pagi aku rutinin power pumping, karena aku dual pump jadi waktunya 20 menit pumping, 10 menit rehat, 10 menit pumping, 10 menit rehat lagi, lalu 10 menit pumping lagi, total 1 jam pumping. Jam 1 siang, aku pumping 20 menit, rehat 10 menit, pumping lagi 10 menit. Jam 4 sore, aku pumping 20 menit, rehat 10 menit, 10 menit pumping lagi. Kok pumping di jam 1 siang dan 4 sore kaya gitu metodenya bun? Karena aku dapet saran dari teman kantor yang sudah jauh berpengalaman, dengan metode rehat 10 menit itu hasilnya lebih banyak dibanding 30 menit tanpa rehat. Dan itu ngaruh di aku. Biar lebih optimal lagi bisa lanjut Marmet setelah pumping. Marmet apa sih, Bun? Itu metode memerah Asi menggunakan tangan. Tutorialnya bisa lihat di youtube atau mbah google.

Bun, review spectra 9+ nya dong. Aku nyaman pakai spectra, dan belum bisa compare dengan merek lain karena  memang belum pernah coba, hehe. Tapi aku mau berbagi tips buat sesama pengguna spectra 9+. Ada dua mode di Spectra 9+ ini, mode massage lv. 1-5, dan mode expression lv. 1-10. Mode massage digunakan untuk memancing LDR, sedangkan mode expression untuk menyedot ASI saat LDR sudah tercapai. Kalau lagi mager, kadang aku pakai mode massage lv. 5 dari awal hingga akhir. Kalau lagi semangat 45, aku pakai tahapan sebagai berikut:

  1. Mode Massage lv. 5 hingga LDR (biasanya kalau aku 1 menit udah LDR)
  2. Mode Expression lv. 6 sampai LDR habis (biasanya LDR bisa tahan di aku sampai 5 menit)
  3. Mode Massage lv. 5, kalau bisa LDR lagi bisa langsung switch ke mode expression lv. 6 lagi, kalau nggak kepancing lagi LDR-nya ya mentok di mode massage lv. 5 sampai sesi pumping berakhir.


Cara tahu udah LDR gimana, Bun? Ujung puting kaya kesemutan, atau bisa lihat di corong ASI keluar lebih banyak, atau bisa juga dengan suara kucuran ASI yang bikin bahagia dunia akhirat di dalam botol.

Mode expression kan levelnya bisa sampai 10, kok cuma pake lv. 6, Bun? Nah, kalau ini sih berdasarkan pengalaman. Memang disarankan untuk menggunakan mode expression bertahap dari lv. yang lebih rendah, tapi kalau di aku lv. 6 ini adalah yang paling optimal. Bahkan kadang hanya menggunakan mode massage lv. 5 aja buat aku udah cukup.

Buat para pejuang ASI diluar sana, terutama yang tipe berdarah-darah kaya aku. Semangat ya. Kalian tidak sendiri. Percayalah setiap Ibu pasti bisa mengAsihi, setiap Ibu punya jalan dan perjuangannya masing-masing. Sering-seringlah melihat ke bawah jangan ke atas. Masih banyak di luar sana yang lebih kurang beruntung dibanding kita, tapi tetap masih bisa kuat memberi yang terbaik untuk anaknya. Syukuri berapapun hasil pumpingnya dan jangan jadikan sesi pumping sebagai target tapi jadikan sebagai aktivitas penuh kebahagiaan tanpa tekanan. Perbanyak makan 3-4 kalo dalam sehari, dan perbanyak minum air putih minimal 2 liter per hari. Berbahagialah para pejuang ASI.

Pengalaman Lahiran Normal Tanpa Induksi Buatan

Tepat 8 Oktober 2019 lalu adalah saat dimana saya merasakan pengalaman yang sangat menakjubkan. Dimana saya diberikan  kesempatan oleh Allah untuk merasakan nikmatnya melahirkan.

Selama hamil saya sudah mencari-cari literatur atau akun-akun yang menerangkan cara menghadapi lahiran normal yang nyaman, salah satunya adalah Bidan Kita. Beberapa hal yang sering saya temukan sebelum menghadapi lahiran adalah belajar nafas perut, hypnobirthing, cara menggunakan gymball dan peanutball, prenatal yoga, senam hamil, jalan cepat minimal 30 menit dalam sehari, dll.

Selama masa kehamilan, saya baru melakukan olah raga di trimester 2. Itu pun hanya mengambil paketan prenatal yoga selama 4 kali pertemuan. Saat itu saya melakukan prenatal yoga di Baby Prince Care Pamulang dengan Bidan Ika sebagai Doula. Banyak yang saya pelajari disana, terutama bagaimana cara mempraktekan nafas perut. Nafas perut ini perlu dilatih selama masa kehamilan untuk menghadapi kontraksi menjelang lahiran.

Trimester 3, saya ingin mencoba olah raga lain, yaitu senam hamil di RS Eka Hospital. Disana harus waiting list selama satu bulan. Saat itu pun saya hanya melakukan senam hamil disana sekali, karena tak lama dari itu saya harus ambil cuti dan langsung pulang kampung ke Sumedang. Honestly, saya lebih senang prenatal yoga dari pada senam hamil. Entah karena faktor instruktur, lingkungan atau memang saya lebih senang yoga.

Selama cuti hamil olah raga apa lagi? Saya olah raga yang gratis dan murah meriah, jalan kaki 30 menit sekali dalam sehari.

Saya mulai cuti hamil di week 37, tadinya mau week 38 tapi karena temen-temen di kantor lagi ngehits banget yang namanya pecah ketuban dini, untuk jaga-jaga saya mulai ambil cuti ketika masuk ke week 37. Saya bekerja di daerah Tangerang dan memutuskan untuk lahiran di kota Bandung, tepatnya di RS Al-Islam Bandung. Kenapa? Karena lumayan dekat dari tempat tinggal orang tua saya dan disana juga tempat adik saya bekerja jadi urusan administrasi dia bantu dari awal sampai akhir, saya tahu beres :D.

Week ke 38, posisi kepala bayi sudah dibawah tapi belum ngunci di panggul. Saya disuruh menaikan intensitas jalan kaki, malah saya disuruh jogging. Dari awalnya hanya 30 menit, saya naikkan menjadi 1 jam. Kontraksi sudah mulai terasa walau ternyata itu hanya kontraksi palsu.

Week ke 39, posisi bayi masih belum ngunci di panggul, belum ada pembukaan juga. Saya tidak lagi jogging, melainkan berlari, saking udah ga sabar pengen cepet cepet lahiran. Di week 39 ini saya sempat mendatangi 2 bidan. Bidan pertama, memberikan saya obat pelunak mulut rahim dengan dosis 2 tablet sehari agar mempercepat pembukaan. Di bidan kedua saya disuruh melanjutkan meminum obat pelunak mulut rahim tersebut, tapi dinaikan dosisnya menjadi 3 tablet sehari. Saat saya periksa ke bidan yang kedua, umur kehamilan saya tepat 40 weeks.

Sehari setelah periksa ke bidan yang kedua, saya masih melakukan lari pagi selama 1 jam. Saat itu seperti biasa saya merasakan kontraksi. Karena udah sering di PHP-in sama kontraksi palsu, saya abaikan rasa nyeri di perut saat berlari. Sampai akhirnya saat sore hari, adik saya melihat saya yang meringis setiap kali kontraksi muncul. Adik saya menyuruh saya untuk segera ke rumah sakit, dia menduga sudah ada pembukaan. Awalnya saya menolak, karena saya masih yakin ini hanya kontraksi palsu. Tapi adik saya memaksa, dia meyakinkan saya untuk segera ke rumah sakit. Ternyata benar saja, ketika masuk IGD dan diperiksa dalam oleh bidan jaga, saya sudah pembukaan 4 mau ke 5. Saya sangat bersyukur mendengarnya. Saat itu juga adik saya mengurus semua masalah administrasi dan juga menghubungi keluarga juga suami saya yang masih di Tangerang.

Proses pembukaan tidak terlalu mulus. Saya butuh waktu 4 jam menuju pembukaan 6 dari pembukaan 5. Padahal denger cerita orang tua, kalau udah pembukaan 5 biasanya suka cepet menuju lahiran. Dari awal pembukaan hingga pembukaan ini saya masih bisa menikmati makan masakan padang :D dan yang paling penting adalah saya masih bisa mempraktekan nafas perus saat kontraksi datang. Seberapa penting sih nafas perut? Penting banget, karena nafas perut ini bisa mengurangi rasa nyeri saar kontraksi, membuat kita lebih fokus dan tenang selama proses pembukaan.

Empat jam dari pembukaan 6, hanya naik menjadi pembukaan 8 saja. Dan disinilah saya mulai tidak bisa mengontrol diri. Sampai suami kena omel hanya karena nyuruh saya buat sabar. Disini saya sadar perlunya ikut Yoga Couple, agar suami juga mendapatkan ilmu penting dalam mendampingi istri selama proses lahiran. Para suami menjadi tahu bahwa istrinya itu sudah kuat dan sabar, daripada menyuruh sabar lebih baik support dengan tindakan seperti mengelus elus punggungnya atau sekedar mengingatkan untuk beristigfar. Kembali ke pembukaan 8 :D, disini saya mulai kesulitan mengatur nafas perut, dan emosi pun tak terkontrol. Beberapa kali saya meminta bidan untuk cek pembukaan karena rasa sakitnya sudah tak tertahan. Tapi pembukaan masih mentok di 8, saya belum bisa masuk ruang persalinan. Saya disarankan menggunakan peanut ball untuk mempercepat pembukaan. Lagi-lagi saya tidak bisa mengontrol emosi. Saya meminta suami untuk menjauhkan peanut ball karena ketika menggunakannya saya merasakan sakit yang lebih tidak tertahan lagi. Setiap kontraksi datang saya berbisik kepada suami, "Sakit banget.... aku ga kuat." Suami saya tampak tidak tega dan menawarkan untuk SC saja. Tapi saya menolak karena sudah hampir selesai perjuangan ini. Menuju pembukaan 8 dan menahan sakitnya itu bukan perkara mudah. Saya yakin masih bisa lahiran normal.

Satu jam berlalu dan rasa sakit semakin menjadi-jadi. ketika diperiksa dalam ternyata sudah pembukaan 9 dan saya pun disuruh memasuki ruang persalinan. Saya pikir masuk ruang persalinan langsung bisa lahiran, ternyata saya masih harus menunggu 1 jam lagi, kepala bayi belum cukup turun untuk mulai mengejan, pembukaan belum sempurna.  Satu jam terasa sangat lama dengan rasa nyeri seperti itu. Saat itu cuma mau bilang ibu ibu yang sudah lebih dulu merakan proses lahiran, kalian sungguh luar biasa.

Akhirnya pembukaan pun lengkap, itu pun dengan bantuan Bidan mempercepat turunnya kepala bayi. Padahal saya sempat ngebatin, "Ya Allah jika memang ternyata sudah jalannya saya harus diinduksi buatan saya siap dan jika sata harus SC, saya ikhlas, saya yakin Engkau akan memberikan jalan untuk masalah biaya." Saya lahiran di rumah sakit tanpa asuransi, karena dari tempat saya bekerja hanya diberikan BPJS yang untuk lahiran normal di RS yang kita inginkan itu agak sulit, sangat dibatasi birokrasi. Alhamdulillah berkat Nakes2 Al Islam yang sangat kooperatif dan juga sabar menengani saya yang penuh drama, bayi mungil itu pun terlahir ke dunia dengan selamat dan sehat.

Saat proses melahirkan, nafas saya buruk sekali, mengejan pun tidak dilakukan dengan tepat. Mungkin karena saya sudah lelah tidak tidur semalaman dan menahan rasa nyeri kontraksi. Proses mengejan hingga kepala bayi keluar itu saya lalui selama 2 jam, waktu yang sangat lama menurut saya. Ini juga pentingnya ikut kelas Prenatal Yoga TM3, karena disana diajarkan cara mengejan dan nafas saat proses persalinan, dan saya tidak mengikutinya.

Ya itulah pengalaman saya melahirkan secara normal dengan berbekal ilmu saat mengikuti Prenatal Yoga TM2, Senam Hamil, Rutin Gym Ball dan jalan cepat 30 - 1 jam sehari. Semoga postingan saya bermanfaat dan menginspirasi bumil-bumil di luar sana. Maaf jika alur cerita berantakan :D.

The Miracle Pregnancy (Part IV)

Part IV ini merupakan kelanjutan dari Part I. Dimana setelah saya dan suami memutuskanp berhenti sejenak mengunjungi dokter kandungan untuk program hamil. Kami mulai mencari beberapa alternatif lain.
Pertama adalah mengunjungi tukang pijat yang sering menangani masalah reproduksi. Sebenarnya saya sedikit takut mengunjungi tukang pijat terutama untuk area reproduksi atau perut. Karena memang ada beberapa kasus setelah dipijat area reproduksinya, malah terjadi perlengketan atau penyumbatan di saluran tuba falopi. Hingga seorang teman kerja saya merekomendasikan tukang pijat wanita langganannya. Dulu dia pernah dipijat karena baby-nya sungsang. Kemudian saya bertanya, bukannya benerin baby sungsang sama tukang pijat itu sakit dan beresiko. Teman saya bilang kalau sama tukang pijat langganannya ini tidak terasa sakit sama sekali, dan cara memijatnya pun tidak seperti yang sering diceritakan orang-orang (baca: sedikit mengerikan).

Akhirnya pada awal Oktober saya diantarkan teman saya itu ke tukang pijat, namanya Mbah Citro. Umurnya sudah kepala enam, tapi masih terlihat sangat bugar. Sebelum mulai memijat, Mbak Citro bilang sama saya seperti ini, "Saya bukan dukun yang bisa meramal-ramal, jangan berpikir setelah saya pijat, besoknya kamu langsung dikasih. Semuanya atas kehendak Allah. Kamu setelah ini jangan pernah putus berdoa sama Allah dan banyak-banyak bersedekah. Nggak usah mikir buat kasih uang besar-besar sama orang, seribu atau dua ribu tapi hati ikhlas itu lebih baik." Kata-kata Mbah Citro ini membuat saya tenang dan semakin membuat saya semangat dalam beribadah dan berdoa kepada Allah.

Kemudian Mbah Citro mulai memeriksa bagian perut saya. Mbah Citro bilang kalau saluran pencernaan saya sangat keras, lambung saya pun tidak kalah keras. Katanya, saya punya maag tapi belum sampai sakit ke ulu hati. Dan saya pun setengah mengiyakan, karena tidak terlalu yakin. Tapi yang selama ini saya rasakan setiap memakan makanan pedas atau telat makan hanya lambung yang penuh dengan gas. Kata Mbah Citro, saluran pencernaan saya harus diperbaiki terlebih dahulu. Menurut Mbah, karena usus saya keras dan menekan area reproduksi, jadi setiap berhubungan (maaf) air maninya terdorong keluar. Mbah menawarkan saya beberapa kotak jamu untuk memperbaiki saluran pencernaan. Rasa jamuanya enak, nggak bikin eneg.

Free memmory, Setiap bulan saya rutin mengunjungi Mbah karena memang saya disuruh datang kembali jika masih belum diberikan keturunan dan jamu habis. Hingga awal Januari 2019 adalah terakhir kalinya saya mengunjungi Mbah. Mbah bilang saat itu, "Ini saya kasih jamu terakhir, kamu tinggal nunggu saja. Bulan depan kamu mau datang untuk pijat atau nggak itu terserah kamu. Yang pasti ini saya kasih terakhir kali jamunya."

Setelah itu, saya dan suami malah santai menjalani program hamil ini, malah terkesan tidak terlalu memikirkan. Biasanya kami menjadwalkan HB sesuai masa subur, tapi saat itu kami berhubungan hanya 3x dalam sebulan karena kami harus mulai menyicil untuk pindahan rumah. Ya, saat itu kami memutuskan untuk pindah ke rumah orang tua suami, dan menabung untuk membeli rumah. Puncak proses pindahan kami jatuh pada awal minggu ke-4 di bulan Januari 2019. Saat sedang mengepak beberapa barang tiba-tiba saya mengeluh pada suami badan terasa lemas. Seperti rasa ngantuk tapi nggak mau tidur. Beberapa menit saya rebahan di kasur setelah itu kembali melanjutkan beres-beres rumah, karena mobil pengangkut barang tidak lama lagi akan datang. 

Selesai berpamitan dengan tetangga, kami pun melaju menuju Pondok Indah Mertua. Sesampainya di rumah mertua, saya masih harus lanjut bersih-bersih kamar yang akan kami tempati, lebih tepatnya kamar suami saya dulu sebelum menikah. Kolong kasur yang penuh debu, membuat saya harus merangkak ke kolong kasur, menyapu dan mengepel lantai hingga bersih. Dan akhirnya proses pindahan usai sudah dengan menyisakan rasa lelah.

Di suatu pagi setelah adzan subuh, saya memutuskan untuk test pack. Kenapa? Ada beberapa alasan. Pertama, lebih dari dua minggu daerah PD saya terasa keram. Seharusnya jika memang itu karena gejala PMS maksimal 2 minggu saya sudah haid. Kedua, karena saya ingin renang. Lho, apa hubungannya? Entah kenapa dari mulai akhir tahun 2018 saya sangat senang berenang. Walau hanya satu kali dalam seminggu tapi repeatation-nya yang saya maksimalkan. Awal februari saya dan suami berniat untuk mengunjungi pijat refleksi di daerah rancaekek tak begitu jauh dari tempat tinggal orang tua saya atas rekomendasi ibu saya. Ibu saya bilang kalau temannya ada yang pernah kesana untuk program hamil, dan atas kehendak Allah beberapa bulan kemudian akhirnya dia diberikan keturunan. Nah, karena di dekat rumah orang tua saya itu ada kolam renang, saya ingin memastikan apakah keram di area PD saya ini gejala haid atau bukan. Kalau hasil test pack negatif, saya tidak akan bawa baju renang ketika pulang ke rumah orang tua saya, karena saya prediksikan saat itu saya pasti sedang haid. Pagi buta itu pun saya melakukan TP. Muncul satu garis merah. Dalam hati saya berkata, "Sudah kuduga". Setelah air seni berkapilarisasi sempurna, saya angkat alat TP-nya. Saat itu saya hanya bisa terdiam dengan tangan bergetar, tidak bisa berkata apa-apa. Detak jantung pun terasa semakin kencang. Saya segera menghampiri suami saya yang masih tertidur, lalu menunjukkan hasil TP. Beberapa detik pertama, suami saya masih bingung apa yang tengah saya tunjukkan padanya. Tak lama dari itu dia menunjukkan raut wajah bahagia dan bertanya, "Kamu hamil?" Allah memberikan kebahagiaan itu tanpa terduga. Rejeki terbesar di awal tahun 2019 adalah dipercayakannya kami menjadi calon orang tua.

Setelah itu apa yang saya dan suami lakukan? Keesokan harinya kami mengunjungi dokter SPOG di BWCC, dokter Agriana. Mungkin karena hasil TP masih samar, kantung baru terlihat seminggu kemudian. Umur kandungan saya saat itu diprediksi sudah menginjak 6 minggu. Kami tidak berbagi kehabagiaan kami melewati media sosial seperti yang sering dilakukan kebanyakan orang. Saat itu kami hanya memberitahukan kebahagiaan kami ini pada keluarga terdekat, bahkan teman kantor pun tidak kami beri tahu. Kenapa? Karena saya dan suami pernah merasakan ada di posisi menanti keturunan yang tak sebentar. Jika ada sahabat kami yang berbagi kebahagiaan dengan share TP hasil positif atau foto hasil USG, kami turut bahagia tapi tidak bisa dipungkiri hati kami sedikit terguncang, seperti berkata "Kapan giliran kami ya Allah." Oleh karena itu saya dan suami menghindari share tentang kehamilan di media sosial. Kita lebih fokus untuk menjaga agar perkembangan janin selalu baik dan sehat. Hanya itu.

Poin-poin penting yang bisa saya ambil dari pengalaman menakjubkan saya ini adalah:
  1. Jangan pernah berprasangka buruk pada Allah, berdoa tanpa henti, lakukan ibadah wajib dan sunah seoptimal mungkin. Kalau saya biasa membaca surat Maryam ayat 1-11 setelah sholat wajib dan sunah.
  2. Sayangi orang tua, terutama ibu. Dengarkan nasihat-nasihat mereka. Jika mendapatkan rejeki lebih jangan lupa untuk berbagi pada mereka. Karena memberi kepada orang tua tidak akan membuat kita miskin. Bahagiakan mereka dengan cara sekecil apapun.
  3. Sedekah. Berbagi kepada yang membutuhkan. Kalau kata Mbah Citro jangan mikirin nominal harus besar, yang penting ikhlas.
  4. Ikhtiar atau berusaha. Jangan pernah menyerah, teruslah berusaha semaksimal yang kamu bisa. Jangan hanya karena sudah pernah gagal di satu program hamil, membuatmu tidak ingin lagi mencoba kembali. Seperti saya gagal di satu dokter kandungan, saya mulai kembali di dokter kandungan lain. Gagal di satu tukang pijat, saya cari alternatif lain seperti pijat refleksi. Satu suplemen tidak berhasil cari referensi lain yang menjelaskan tentang suplemen lain yang bisa dikonsumsi untuk mempersiapkan kehamilan. Percayalah, Tuhan sudah menentukan kapan tepatnya kita diberikan keturunan. Bisa jadi Tuhan hanya ingin melihat sejauh apa usaha kita dalam menanti keturunan. Sesering apa kita bangkit setelah terjatuh karena kegagalan. Atau bahkan Tuhan hanya ingin mendengar doa-doa kita yang lebih sering dari biasanya. Tidak ada yang tahu pada usaha yang mana dan keberapa akhirnya kita berhasil. Pilih saja, hanya diam atau berusaha tanpa lelah.
Sekian pengalaman program hamil dari saya, semoga bermanfaat. Dan mohon doa-nya agar insyaallah putra kami dapat lahir dengan selamat, sehat dan normal. Aamiin.

The Miracle Pregnancy (Part III)

Selama program hamil ke dokter kandungan dan melakukan pola hidup sehat, saya dan suami juga mengonsumsi beberapa macam suplemen dan vitamin. Saya lupa tepatnya, apakah kami lakukan paralel atau pada saat kami dalam masa istirahat dari program hamil ke dokter.
Saya mulai dari suplemen dan vitamin yang saya makan selama program hamil. Pertama, Blackmores I-Folic. Setelah mencari beberapa review di internet dan dari teman-teman terdekat, mereka merekomendasikan Blackmores I-Folic sebagai sumber asam folat dalam mempersiapkan kehamilan. Ukuran pilnya sangat kecil, mirip dengan folavit. Diminum 1x sehari, dengan dosis asam folat per tabletnya sebesar 500 mcg.


Kedua, Ever E sebagai sumber vitamin E dengan dosis 250 iu. Saya membaca di beberapa artikel, sebenarnya kebutuhan vitamin E untuk mempersiapkan kehamilan dengan dosis 100 iu sudahlah cukup. Hal ini berdasarkan kemampuan tubuh menyerap vitamin per harinya. Konsumsi vitamin E dengan dosis terlalu tinggi dan dikonsumsi daily juga kurang baik untuk tubuh. Biasanya kalau program hamil ke dokter, dosis vitamin E yang diberikan sebesar 400 iu. Saya sempat mengonsumsi vitamin E dengan dosis 400 itu, tidak lama karena saya mengonsumsinya tanpa resep dokter, mereknya Santa-e (FYI santa-e ini adalah pil kunyah rasa cokelat).



Ketiga, saya dan suami mengonsumsi Habbatussauda atau dikenal juga dengan jinten hitam. Dalam agama kepercayaan kami, jinten hitam dikenal sebagai obat alami, penyembuh berbagai macam penyakit kecuali kematian. Bagi yang aktif di instagram, coba deh cari dokter Bowono Suryo. Beliau banyak menangani promil dan masyaallah melaluinya, sudah banyak yang berhasil memiliki keturunan. Saya mengetahui manfaat Habbatussauda untuk promil pun setelah memlihat postingan di IG-nya beliau.


Keempat, ini adalah suplemen wajibnya suami saya, yaitu Oligocare. Suplemen ini membantu para pria untuk memperbaiki jumlah dan kualitas spermanya. Dan terbukti pada suami saya, dilihat dari perbedaan hasil tes sperma sebelum dan sesudah mengonsumsi oligocare. 


Itulah beberapa suplemen yang kami konsumsi selama program hamil. Apakah setelah itu saya dan suami langsung diberi keturunan? Belum. Tak lama dari rangkaian usaha kami untuk mendapatkan keturunan, Tuhan tengah mempersisapkan kabar bahagia itu.