Balada Pejuang ASI

Perjuangan seorang Ibu begitu besar saat melahirkan. Tak berhenti dari situ, selanjutnya seorang Ibu harus berjuang selama 6 bulan paska melahirkan bahkan sampai 2 tahun untuk memberikan ASI bagi buah hatinya hingga titik darah penghabisan. Kenapa? Karena setiap Ibu memiliki pengalaman dan kesulitan berbeda-beda dalam memberikan ASI. Ada tipe Ibu dengan produksi ASI melimpah sampai bisa bikin kolam mandi 7 bidadari, ada juga Ibu dibelahan bumi sana yang harus berdarah-darah mempertahankan produksi asinya selalu lancar dan cukup untuk memenuhi kebutuhan ASI anaknya. Pertanyaannya, aku masuk dalam tipe mana? Alhamdulillah, tentu saja yang berdarah-darah memperjuangkan produksi ASI :)).

Selama hamil aku rajin memgonsumsi Blackmores Pregnancy & Breast Feeding. Selain kaya akan vitamin untuk Ibu Hamil, juga baik untuk mempersiapkan proses mengAsihiku setelah melahirkan. Dan memang ini ngaruh banget buat aku. Setidaknya aku bisa memberikan Asi secara langsung meskipun perlu dibantu Paraji melalui pijatan pada payudara. Asiku kental, tapi produksinya tidak melimpah, bahkan seringnya selalu habis terkuras selama DBF (Direct Breast Feeding). Aku memiliki tipe PD gentong kecil. Gentong kecil kan tidak mempengaruhi produksi Asi, Bun? Iya, bener banget. PD kecil tidak mempengaruhi produksi Asi, dalam arti Asi akan selalu ada tapi limit daya tampungnya yang berbeda-beda. Misal PD udah keras banget dalam 2 sampai 3 jam, sampai ASI ngerembes. Si Gentong kecil kalo dipompa paling mentok di 200 sampai 300ml dari 2 PD. Makanya Gentong kecil dengan produksi Asi yang baik harus sering dipompa, PD harus sering dikosongkan untuk akhirnya terisi kembali.

Selama cuti, aku mendahulukan DBF. Dan memang sulit sekali mencari waktu untuk pumping dan mulai memanage stok ASIP. Setiap mau pumping pasti baby El kebangun minta mimik. Aku pun di awal menyusui nggak rajin pumping karena balada puting lecet dan hasil pumping setelah DBF begitu menyedihkan, hanya basahin botol aja :'D. Akhirnya aku memperkuat tekad untuk nabung ASIP, minimal 20 kantong sebelum masuk kerja. Alhamdulillah aku didukung penuh sama suami dan sahabat laktasiku. Yang diawal niat cuma nabung 20 ASIP akhirnya bisa nabung 60 ASIP. Gimana caranya? Nyicil. Dari hasil power pumping tengah malam dan dari hasil tampung menggunakan Silicon Breast Pump Manual. Aku pake yang no merek dikasih adikku. Kalau mau yang bermerek, bisa pakai merek Mooimoom.

Setelah masuk kerja, ternyata perjalanan awal pejuang ASI Ibu pekerja tak semudah yang dibayangkan. Aku bisa pumping 4 kali atau 2 jam sekali di tempat kerja, tapi kerjaanku yang sebagai user alat tes di Laboratorium keteteran. Alhasil aku kurangi menjadi 3 kali pumping. Hari pertama bekerja, aku membawa pulang 3 kantong ASI @ 120ml. Saat itu kebutuhan Baby El 5-6 kantong ASI selama hampir 12 jam aku tinggal kerja. Aku sudah merasa ketar ketir. Tapi suami menyemangati, jalani dulu, kita usaha dan pasrahkan untuk hasilnya pada Allah. Setelah 5 hari, hasil pumpingku tidak memperlihatkan peningkatan yang signifikan. Aku memutuskan untuk mengonsumsi ASI booster. ASI booster pertamaku Mamabear Soya Mix. Ini tidak terlalu pengaruh sama aku. Akhirnya kuganti lagi dengan Asifit. Alhamdulillah mulai ada peningkatan. Tapi nambahnya mentok di 20 ml masing-masing PD. Aku bisa bawa pulang 3,5 kantong ASI. Menyadari hasil pumpingku selama di kantor masih kurang mencukupi, suamiku memberi saran padaku untuk pumping di malam hari setelah Baby El tidur. Awalnya aku menolak, bahkan pengen nangis karena jadi takut kelelahan kurang tidur dan malah bikin produksi ASI makin seret. Tapi akhirnya aku coba. Saat itu baby El lagi aktif-aktifnya di siang hari dan terlelap tidur di malam hari. Terbangun hanya sesekali untuk mimik sebentar. Alhasil aku bisa 2x pumping jeda 2 jam, yaitu jam 2 dan 4 dini hari. Lumayan bisa nambah 2 hingga 2.5 kantong ASI. Total dengan hasil pumping aku di kantor menjadi 6 kantong.
from: Google

from: Google

Dari asifit, aku mulai mencoba Mamabear Teh Pelancar ASI. Ini cukup ngaruh di aku walaupun ga banyak. Cara penyajiannya cukup diseduh dengan air yang baru saja dididihkan, tunggu selama 10 menit sebelum diminum. Tapi karena di kantor hanya ada air panas dari dispenser, aku ngerasa proses penyeduhannya kurang optimal.

from: Google

Dari teh pelancar asi Mamabear, aku beralih ke Kelorcap (ekstrak daun kelor dalam kapsul). Asi Booster ini diclaim bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas Asi. Niat awal aku milih Kelorcap ini karena jika kuantitas nggak ningkat setidaknya kualitasnya. Kandungan lemak Asiku lebih banyak dan baby El pun jadi lebih mudah kenyang. Tapi alhamdulillahnya produksi aku pun ikut meningkat, bahkan sempat bikin PD kananku ngebagel karena nggak aku pompa. Jadi kebiasaanku saat weekend adalah mengutamakan DBF. Adapun pumping aku lakukan dini hari, itu pun kalau baby El nggak sering kebangun minta mimik pada dini hari. Kelorcap yang aku konsumsi hingga saat ini merek Lullabee, kenapa nggak Mom Uung yang lebih terkenal? Alasannya simple, karena Lullabee lebih murah. Hehe. Satu botol isi 50 kapsul dibandrol 75 ribuan saja. Aku minum 2 kapsul, 3 kali dalam satu hari. Kalau dirasa produksi ASI udah luber-luber alias PD dikit-dikit kenceng, konsumsi bisa dikurangi menjadi 1 kapsul, 3 kali dalam sehari. Setelah konsumsi daun kelor ini, aku bisa bawa pulang 4-5 kantong ASI dari tempat kerja. Dan kebetulan saat ini baby El aktif di malam hari dan tertidur pulas selama ditinggal kerja. Maksimal dia cuma abisin 5 kantong asi, seringnya hanya 4 kantong asi.

from: Google

Pernah ngalamin mommy shaming selama mengAsihi nggak sih, Bun? Pernah banget bahkan dari orang terdekat, yaitu mertua aku sendiri. Aku tinggal masih dengan mertua. Bisa dibayangkan awal-awal mengAsihiku nightmare nya kaya gimana. Nangis udah jadi makananku tiap hari karena kalimat-kalimat ajaib seperti, "Keluar nggak sih asinya?", "Nggak kenyang tuh, makanya tidurnya sebentar-sebentar.", "Pake dot aja, itu asinya ngga deres.", "Jangan makan pedes, nanti Asinya pedes." Dan masih banyak lagi, semua disponsori oleh mulut mertua. wkwkwk... Tapi setelah dijalani meskipun masih suka dongkol, aku mulai terbiasa dan membiarkan semuanya bagai angin lalu dan serpihan debu yang tak kasat mata. Aku meyakinkan diri aku, bahwa aku bisa, aku kuat.

Pakai alat pumping apa, Bun? Aku pakai pompa elektrik merek Spectra 9 Plus. Awalnya aku pakai handsfree untuk memudahkan selama di tempat kerja dan katanya hasil pumpingnya relatif lebih banyak dibandingkan dengan corong bawaan. Tapi balik lagi, yang namanya alat pompa itu cocok-cocokan. Selama menggunakan handsfree, PD-ku jadi sering ngebagel bahkan puncaknya pernah keras kaya papan dan nggak bisa sembuh sebelum dimimik-in langsung ke baby El. Selama di kantor nahan sakit yang luar biasa, rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum bercampur meriang. Akhirnya aku putuskan kembali menggunakan corong bawaan spectra. Dan alhamdulillah pengosongan PD relatif lebih optimal, aku udah makin jarang ngerasain ngebagel lagi di area PD aku, dan di aku hasil pumping jadi lebih banyak dibanding menggunakan handsfree.

from: Google (Spectra 9+)

from: Google (Handsfree Cup Spectra)

Managemen Pumping-nya kaya gimana selama di tempat kerja, Bun? Aku bagi jadi 3 sesi, yaitu 9 pagi, 1 siang dan 4 sore. Kadang aku bisa 4 kali kalau tiba-tiba produksi ASI turun yang disebabkan weekend over leha-leha. Jam 9 pagi aku rutinin power pumping, karena aku dual pump jadi waktunya 20 menit pumping, 10 menit rehat, 10 menit pumping, 10 menit rehat lagi, lalu 10 menit pumping lagi, total 1 jam pumping. Jam 1 siang, aku pumping 20 menit, rehat 10 menit, pumping lagi 10 menit. Jam 4 sore, aku pumping 20 menit, rehat 10 menit, 10 menit pumping lagi. Kok pumping di jam 1 siang dan 4 sore kaya gitu metodenya bun? Karena aku dapet saran dari teman kantor yang sudah jauh berpengalaman, dengan metode rehat 10 menit itu hasilnya lebih banyak dibanding 30 menit tanpa rehat. Dan itu ngaruh di aku. Biar lebih optimal lagi bisa lanjut Marmet setelah pumping. Marmet apa sih, Bun? Itu metode memerah Asi menggunakan tangan. Tutorialnya bisa lihat di youtube atau mbah google.

Bun, review spectra 9+ nya dong. Aku nyaman pakai spectra, dan belum bisa compare dengan merek lain karena  memang belum pernah coba, hehe. Tapi aku mau berbagi tips buat sesama pengguna spectra 9+. Ada dua mode di Spectra 9+ ini, mode massage lv. 1-5, dan mode expression lv. 1-10. Mode massage digunakan untuk memancing LDR, sedangkan mode expression untuk menyedot ASI saat LDR sudah tercapai. Kalau lagi mager, kadang aku pakai mode massage lv. 5 dari awal hingga akhir. Kalau lagi semangat 45, aku pakai tahapan sebagai berikut:

  1. Mode Massage lv. 5 hingga LDR (biasanya kalau aku 1 menit udah LDR)
  2. Mode Expression lv. 6 sampai LDR habis (biasanya LDR bisa tahan di aku sampai 5 menit)
  3. Mode Massage lv. 5, kalau bisa LDR lagi bisa langsung switch ke mode expression lv. 6 lagi, kalau nggak kepancing lagi LDR-nya ya mentok di mode massage lv. 5 sampai sesi pumping berakhir.


Cara tahu udah LDR gimana, Bun? Ujung puting kaya kesemutan, atau bisa lihat di corong ASI keluar lebih banyak, atau bisa juga dengan suara kucuran ASI yang bikin bahagia dunia akhirat di dalam botol.

Mode expression kan levelnya bisa sampai 10, kok cuma pake lv. 6, Bun? Nah, kalau ini sih berdasarkan pengalaman. Memang disarankan untuk menggunakan mode expression bertahap dari lv. yang lebih rendah, tapi kalau di aku lv. 6 ini adalah yang paling optimal. Bahkan kadang hanya menggunakan mode massage lv. 5 aja buat aku udah cukup.

Buat para pejuang ASI diluar sana, terutama yang tipe berdarah-darah kaya aku. Semangat ya. Kalian tidak sendiri. Percayalah setiap Ibu pasti bisa mengAsihi, setiap Ibu punya jalan dan perjuangannya masing-masing. Sering-seringlah melihat ke bawah jangan ke atas. Masih banyak di luar sana yang lebih kurang beruntung dibanding kita, tapi tetap masih bisa kuat memberi yang terbaik untuk anaknya. Syukuri berapapun hasil pumpingnya dan jangan jadikan sesi pumping sebagai target tapi jadikan sebagai aktivitas penuh kebahagiaan tanpa tekanan. Perbanyak makan 3-4 kalo dalam sehari, dan perbanyak minum air putih minimal 2 liter per hari. Berbahagialah para pejuang ASI.

Pengalaman Lahiran Normal Tanpa Induksi Buatan

Tepat 8 Oktober 2019 lalu adalah saat dimana saya merasakan pengalaman yang sangat menakjubkan. Dimana saya diberikan  kesempatan oleh Allah untuk merasakan nikmatnya melahirkan.

Selama hamil saya sudah mencari-cari literatur atau akun-akun yang menerangkan cara menghadapi lahiran normal yang nyaman, salah satunya adalah Bidan Kita. Beberapa hal yang sering saya temukan sebelum menghadapi lahiran adalah belajar nafas perut, hypnobirthing, cara menggunakan gymball dan peanutball, prenatal yoga, senam hamil, jalan cepat minimal 30 menit dalam sehari, dll.

Selama masa kehamilan, saya baru melakukan olah raga di trimester 2. Itu pun hanya mengambil paketan prenatal yoga selama 4 kali pertemuan. Saat itu saya melakukan prenatal yoga di Baby Prince Care Pamulang dengan Bidan Ika sebagai Doula. Banyak yang saya pelajari disana, terutama bagaimana cara mempraktekan nafas perut. Nafas perut ini perlu dilatih selama masa kehamilan untuk menghadapi kontraksi menjelang lahiran.

Trimester 3, saya ingin mencoba olah raga lain, yaitu senam hamil di RS Eka Hospital. Disana harus waiting list selama satu bulan. Saat itu pun saya hanya melakukan senam hamil disana sekali, karena tak lama dari itu saya harus ambil cuti dan langsung pulang kampung ke Sumedang. Honestly, saya lebih senang prenatal yoga dari pada senam hamil. Entah karena faktor instruktur, lingkungan atau memang saya lebih senang yoga.

Selama cuti hamil olah raga apa lagi? Saya olah raga yang gratis dan murah meriah, jalan kaki 30 menit sekali dalam sehari.

Saya mulai cuti hamil di week 37, tadinya mau week 38 tapi karena temen-temen di kantor lagi ngehits banget yang namanya pecah ketuban dini, untuk jaga-jaga saya mulai ambil cuti ketika masuk ke week 37. Saya bekerja di daerah Tangerang dan memutuskan untuk lahiran di kota Bandung, tepatnya di RS Al-Islam Bandung. Kenapa? Karena lumayan dekat dari tempat tinggal orang tua saya dan disana juga tempat adik saya bekerja jadi urusan administrasi dia bantu dari awal sampai akhir, saya tahu beres :D.

Week ke 38, posisi kepala bayi sudah dibawah tapi belum ngunci di panggul. Saya disuruh menaikan intensitas jalan kaki, malah saya disuruh jogging. Dari awalnya hanya 30 menit, saya naikkan menjadi 1 jam. Kontraksi sudah mulai terasa walau ternyata itu hanya kontraksi palsu.

Week ke 39, posisi bayi masih belum ngunci di panggul, belum ada pembukaan juga. Saya tidak lagi jogging, melainkan berlari, saking udah ga sabar pengen cepet cepet lahiran. Di week 39 ini saya sempat mendatangi 2 bidan. Bidan pertama, memberikan saya obat pelunak mulut rahim dengan dosis 2 tablet sehari agar mempercepat pembukaan. Di bidan kedua saya disuruh melanjutkan meminum obat pelunak mulut rahim tersebut, tapi dinaikan dosisnya menjadi 3 tablet sehari. Saat saya periksa ke bidan yang kedua, umur kehamilan saya tepat 40 weeks.

Sehari setelah periksa ke bidan yang kedua, saya masih melakukan lari pagi selama 1 jam. Saat itu seperti biasa saya merasakan kontraksi. Karena udah sering di PHP-in sama kontraksi palsu, saya abaikan rasa nyeri di perut saat berlari. Sampai akhirnya saat sore hari, adik saya melihat saya yang meringis setiap kali kontraksi muncul. Adik saya menyuruh saya untuk segera ke rumah sakit, dia menduga sudah ada pembukaan. Awalnya saya menolak, karena saya masih yakin ini hanya kontraksi palsu. Tapi adik saya memaksa, dia meyakinkan saya untuk segera ke rumah sakit. Ternyata benar saja, ketika masuk IGD dan diperiksa dalam oleh bidan jaga, saya sudah pembukaan 4 mau ke 5. Saya sangat bersyukur mendengarnya. Saat itu juga adik saya mengurus semua masalah administrasi dan juga menghubungi keluarga juga suami saya yang masih di Tangerang.

Proses pembukaan tidak terlalu mulus. Saya butuh waktu 4 jam menuju pembukaan 6 dari pembukaan 5. Padahal denger cerita orang tua, kalau udah pembukaan 5 biasanya suka cepet menuju lahiran. Dari awal pembukaan hingga pembukaan ini saya masih bisa menikmati makan masakan padang :D dan yang paling penting adalah saya masih bisa mempraktekan nafas perus saat kontraksi datang. Seberapa penting sih nafas perut? Penting banget, karena nafas perut ini bisa mengurangi rasa nyeri saar kontraksi, membuat kita lebih fokus dan tenang selama proses pembukaan.

Empat jam dari pembukaan 6, hanya naik menjadi pembukaan 8 saja. Dan disinilah saya mulai tidak bisa mengontrol diri. Sampai suami kena omel hanya karena nyuruh saya buat sabar. Disini saya sadar perlunya ikut Yoga Couple, agar suami juga mendapatkan ilmu penting dalam mendampingi istri selama proses lahiran. Para suami menjadi tahu bahwa istrinya itu sudah kuat dan sabar, daripada menyuruh sabar lebih baik support dengan tindakan seperti mengelus elus punggungnya atau sekedar mengingatkan untuk beristigfar. Kembali ke pembukaan 8 :D, disini saya mulai kesulitan mengatur nafas perut, dan emosi pun tak terkontrol. Beberapa kali saya meminta bidan untuk cek pembukaan karena rasa sakitnya sudah tak tertahan. Tapi pembukaan masih mentok di 8, saya belum bisa masuk ruang persalinan. Saya disarankan menggunakan peanut ball untuk mempercepat pembukaan. Lagi-lagi saya tidak bisa mengontrol emosi. Saya meminta suami untuk menjauhkan peanut ball karena ketika menggunakannya saya merasakan sakit yang lebih tidak tertahan lagi. Setiap kontraksi datang saya berbisik kepada suami, "Sakit banget.... aku ga kuat." Suami saya tampak tidak tega dan menawarkan untuk SC saja. Tapi saya menolak karena sudah hampir selesai perjuangan ini. Menuju pembukaan 8 dan menahan sakitnya itu bukan perkara mudah. Saya yakin masih bisa lahiran normal.

Satu jam berlalu dan rasa sakit semakin menjadi-jadi. ketika diperiksa dalam ternyata sudah pembukaan 9 dan saya pun disuruh memasuki ruang persalinan. Saya pikir masuk ruang persalinan langsung bisa lahiran, ternyata saya masih harus menunggu 1 jam lagi, kepala bayi belum cukup turun untuk mulai mengejan, pembukaan belum sempurna.  Satu jam terasa sangat lama dengan rasa nyeri seperti itu. Saat itu cuma mau bilang ibu ibu yang sudah lebih dulu merakan proses lahiran, kalian sungguh luar biasa.

Akhirnya pembukaan pun lengkap, itu pun dengan bantuan Bidan mempercepat turunnya kepala bayi. Padahal saya sempat ngebatin, "Ya Allah jika memang ternyata sudah jalannya saya harus diinduksi buatan saya siap dan jika sata harus SC, saya ikhlas, saya yakin Engkau akan memberikan jalan untuk masalah biaya." Saya lahiran di rumah sakit tanpa asuransi, karena dari tempat saya bekerja hanya diberikan BPJS yang untuk lahiran normal di RS yang kita inginkan itu agak sulit, sangat dibatasi birokrasi. Alhamdulillah berkat Nakes2 Al Islam yang sangat kooperatif dan juga sabar menengani saya yang penuh drama, bayi mungil itu pun terlahir ke dunia dengan selamat dan sehat.

Saat proses melahirkan, nafas saya buruk sekali, mengejan pun tidak dilakukan dengan tepat. Mungkin karena saya sudah lelah tidak tidur semalaman dan menahan rasa nyeri kontraksi. Proses mengejan hingga kepala bayi keluar itu saya lalui selama 2 jam, waktu yang sangat lama menurut saya. Ini juga pentingnya ikut kelas Prenatal Yoga TM3, karena disana diajarkan cara mengejan dan nafas saat proses persalinan, dan saya tidak mengikutinya.

Ya itulah pengalaman saya melahirkan secara normal dengan berbekal ilmu saat mengikuti Prenatal Yoga TM2, Senam Hamil, Rutin Gym Ball dan jalan cepat 30 - 1 jam sehari. Semoga postingan saya bermanfaat dan menginspirasi bumil-bumil di luar sana. Maaf jika alur cerita berantakan :D.

The Miracle Pregnancy (Part IV)

Part IV ini merupakan kelanjutan dari Part I. Dimana setelah saya dan suami memutuskanp berhenti sejenak mengunjungi dokter kandungan untuk program hamil. Kami mulai mencari beberapa alternatif lain.
Pertama adalah mengunjungi tukang pijat yang sering menangani masalah reproduksi. Sebenarnya saya sedikit takut mengunjungi tukang pijat terutama untuk area reproduksi atau perut. Karena memang ada beberapa kasus setelah dipijat area reproduksinya, malah terjadi perlengketan atau penyumbatan di saluran tuba falopi. Hingga seorang teman kerja saya merekomendasikan tukang pijat wanita langganannya. Dulu dia pernah dipijat karena baby-nya sungsang. Kemudian saya bertanya, bukannya benerin baby sungsang sama tukang pijat itu sakit dan beresiko. Teman saya bilang kalau sama tukang pijat langganannya ini tidak terasa sakit sama sekali, dan cara memijatnya pun tidak seperti yang sering diceritakan orang-orang (baca: sedikit mengerikan).

Akhirnya pada awal Oktober saya diantarkan teman saya itu ke tukang pijat, namanya Mbah Citro. Umurnya sudah kepala enam, tapi masih terlihat sangat bugar. Sebelum mulai memijat, Mbak Citro bilang sama saya seperti ini, "Saya bukan dukun yang bisa meramal-ramal, jangan berpikir setelah saya pijat, besoknya kamu langsung dikasih. Semuanya atas kehendak Allah. Kamu setelah ini jangan pernah putus berdoa sama Allah dan banyak-banyak bersedekah. Nggak usah mikir buat kasih uang besar-besar sama orang, seribu atau dua ribu tapi hati ikhlas itu lebih baik." Kata-kata Mbah Citro ini membuat saya tenang dan semakin membuat saya semangat dalam beribadah dan berdoa kepada Allah.

Kemudian Mbah Citro mulai memeriksa bagian perut saya. Mbah Citro bilang kalau saluran pencernaan saya sangat keras, lambung saya pun tidak kalah keras. Katanya, saya punya maag tapi belum sampai sakit ke ulu hati. Dan saya pun setengah mengiyakan, karena tidak terlalu yakin. Tapi yang selama ini saya rasakan setiap memakan makanan pedas atau telat makan hanya lambung yang penuh dengan gas. Kata Mbah Citro, saluran pencernaan saya harus diperbaiki terlebih dahulu. Menurut Mbah, karena usus saya keras dan menekan area reproduksi, jadi setiap berhubungan (maaf) air maninya terdorong keluar. Mbah menawarkan saya beberapa kotak jamu untuk memperbaiki saluran pencernaan. Rasa jamuanya enak, nggak bikin eneg.

Free memmory, Setiap bulan saya rutin mengunjungi Mbah karena memang saya disuruh datang kembali jika masih belum diberikan keturunan dan jamu habis. Hingga awal Januari 2019 adalah terakhir kalinya saya mengunjungi Mbah. Mbah bilang saat itu, "Ini saya kasih jamu terakhir, kamu tinggal nunggu saja. Bulan depan kamu mau datang untuk pijat atau nggak itu terserah kamu. Yang pasti ini saya kasih terakhir kali jamunya."

Setelah itu, saya dan suami malah santai menjalani program hamil ini, malah terkesan tidak terlalu memikirkan. Biasanya kami menjadwalkan HB sesuai masa subur, tapi saat itu kami berhubungan hanya 3x dalam sebulan karena kami harus mulai menyicil untuk pindahan rumah. Ya, saat itu kami memutuskan untuk pindah ke rumah orang tua suami, dan menabung untuk membeli rumah. Puncak proses pindahan kami jatuh pada awal minggu ke-4 di bulan Januari 2019. Saat sedang mengepak beberapa barang tiba-tiba saya mengeluh pada suami badan terasa lemas. Seperti rasa ngantuk tapi nggak mau tidur. Beberapa menit saya rebahan di kasur setelah itu kembali melanjutkan beres-beres rumah, karena mobil pengangkut barang tidak lama lagi akan datang. 

Selesai berpamitan dengan tetangga, kami pun melaju menuju Pondok Indah Mertua. Sesampainya di rumah mertua, saya masih harus lanjut bersih-bersih kamar yang akan kami tempati, lebih tepatnya kamar suami saya dulu sebelum menikah. Kolong kasur yang penuh debu, membuat saya harus merangkak ke kolong kasur, menyapu dan mengepel lantai hingga bersih. Dan akhirnya proses pindahan usai sudah dengan menyisakan rasa lelah.

Di suatu pagi setelah adzan subuh, saya memutuskan untuk test pack. Kenapa? Ada beberapa alasan. Pertama, lebih dari dua minggu daerah PD saya terasa keram. Seharusnya jika memang itu karena gejala PMS maksimal 2 minggu saya sudah haid. Kedua, karena saya ingin renang. Lho, apa hubungannya? Entah kenapa dari mulai akhir tahun 2018 saya sangat senang berenang. Walau hanya satu kali dalam seminggu tapi repeatation-nya yang saya maksimalkan. Awal februari saya dan suami berniat untuk mengunjungi pijat refleksi di daerah rancaekek tak begitu jauh dari tempat tinggal orang tua saya atas rekomendasi ibu saya. Ibu saya bilang kalau temannya ada yang pernah kesana untuk program hamil, dan atas kehendak Allah beberapa bulan kemudian akhirnya dia diberikan keturunan. Nah, karena di dekat rumah orang tua saya itu ada kolam renang, saya ingin memastikan apakah keram di area PD saya ini gejala haid atau bukan. Kalau hasil test pack negatif, saya tidak akan bawa baju renang ketika pulang ke rumah orang tua saya, karena saya prediksikan saat itu saya pasti sedang haid. Pagi buta itu pun saya melakukan TP. Muncul satu garis merah. Dalam hati saya berkata, "Sudah kuduga". Setelah air seni berkapilarisasi sempurna, saya angkat alat TP-nya. Saat itu saya hanya bisa terdiam dengan tangan bergetar, tidak bisa berkata apa-apa. Detak jantung pun terasa semakin kencang. Saya segera menghampiri suami saya yang masih tertidur, lalu menunjukkan hasil TP. Beberapa detik pertama, suami saya masih bingung apa yang tengah saya tunjukkan padanya. Tak lama dari itu dia menunjukkan raut wajah bahagia dan bertanya, "Kamu hamil?" Allah memberikan kebahagiaan itu tanpa terduga. Rejeki terbesar di awal tahun 2019 adalah dipercayakannya kami menjadi calon orang tua.

Setelah itu apa yang saya dan suami lakukan? Keesokan harinya kami mengunjungi dokter SPOG di BWCC, dokter Agriana. Mungkin karena hasil TP masih samar, kantung baru terlihat seminggu kemudian. Umur kandungan saya saat itu diprediksi sudah menginjak 6 minggu. Kami tidak berbagi kehabagiaan kami melewati media sosial seperti yang sering dilakukan kebanyakan orang. Saat itu kami hanya memberitahukan kebahagiaan kami ini pada keluarga terdekat, bahkan teman kantor pun tidak kami beri tahu. Kenapa? Karena saya dan suami pernah merasakan ada di posisi menanti keturunan yang tak sebentar. Jika ada sahabat kami yang berbagi kebahagiaan dengan share TP hasil positif atau foto hasil USG, kami turut bahagia tapi tidak bisa dipungkiri hati kami sedikit terguncang, seperti berkata "Kapan giliran kami ya Allah." Oleh karena itu saya dan suami menghindari share tentang kehamilan di media sosial. Kita lebih fokus untuk menjaga agar perkembangan janin selalu baik dan sehat. Hanya itu.

Poin-poin penting yang bisa saya ambil dari pengalaman menakjubkan saya ini adalah:
  1. Jangan pernah berprasangka buruk pada Allah, berdoa tanpa henti, lakukan ibadah wajib dan sunah seoptimal mungkin. Kalau saya biasa membaca surat Maryam ayat 1-11 setelah sholat wajib dan sunah.
  2. Sayangi orang tua, terutama ibu. Dengarkan nasihat-nasihat mereka. Jika mendapatkan rejeki lebih jangan lupa untuk berbagi pada mereka. Karena memberi kepada orang tua tidak akan membuat kita miskin. Bahagiakan mereka dengan cara sekecil apapun.
  3. Sedekah. Berbagi kepada yang membutuhkan. Kalau kata Mbah Citro jangan mikirin nominal harus besar, yang penting ikhlas.
  4. Ikhtiar atau berusaha. Jangan pernah menyerah, teruslah berusaha semaksimal yang kamu bisa. Jangan hanya karena sudah pernah gagal di satu program hamil, membuatmu tidak ingin lagi mencoba kembali. Seperti saya gagal di satu dokter kandungan, saya mulai kembali di dokter kandungan lain. Gagal di satu tukang pijat, saya cari alternatif lain seperti pijat refleksi. Satu suplemen tidak berhasil cari referensi lain yang menjelaskan tentang suplemen lain yang bisa dikonsumsi untuk mempersiapkan kehamilan. Percayalah, Tuhan sudah menentukan kapan tepatnya kita diberikan keturunan. Bisa jadi Tuhan hanya ingin melihat sejauh apa usaha kita dalam menanti keturunan. Sesering apa kita bangkit setelah terjatuh karena kegagalan. Atau bahkan Tuhan hanya ingin mendengar doa-doa kita yang lebih sering dari biasanya. Tidak ada yang tahu pada usaha yang mana dan keberapa akhirnya kita berhasil. Pilih saja, hanya diam atau berusaha tanpa lelah.
Sekian pengalaman program hamil dari saya, semoga bermanfaat. Dan mohon doa-nya agar insyaallah putra kami dapat lahir dengan selamat, sehat dan normal. Aamiin.